Lain-lain

Jawara e-Sport Termuda, HP Puluhan Juta, Seminggu Voucher Habis Rp 1,5 Juta


PROBOLINGGO – Usianya masih 13 tahun. Tetapi nama Aldo Febriansyah sudah cukup disegani dalam komunitas Free Fire Probolinggo. Pasalnya, bocah yang baru lulus Madrasah Ibtidaiyah (MI) ini ternyata telah tujuh kali menjuarai turnamen Free Fire bersama timnya, yakni Extreme.

Aldo Febriansyah merupakan anak kedua dari Sainul Fatah (41), warga Desa Kandangjati Wetan, Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo. Aldo tersenyum sumringah setelah mendengar nama timnya yakni Extreme, disebut sebagai juara pertama dalam turnamen Free Fire dalam rangka menyambut Porkab Probolinggo VII, Minggu (4/7).

Dalam turnamen online dan offline yang diselenggarakan di cafe Gabahe desa Maron Kidul kecamatan Maron itu, Aldo yang satu tim bersama dengan kakaknya yakni Feri Andriansyah yang juga kapten tim Extreme. Mereka berhasil menyisihkan 71 tim E-Sport lainnya dalam beradu skill menembak didalam game online Free Fire besutan dari developer game Garena.

Dengan raihan 85 poin, posisi Extreme terpaut jauh dengan tim E-Sport juara kedua yakni Over Power yang hanya meraih 76 poin. Alhasil piala, sertifikat, dan uang tunai senilai Rp 2.000.000 pun dibawa pulang oleh tim Extreme beranggotakan 5 orang tersebut.

Ditemui usai penyerahan hadiah, Aldo yang didampingi ayahnya yakni Sainul Fatah, mengatakan bahwa dirinya tak menyangka bakal juara di turnamen Porkab Probolinggo VII. Pasalnya di turnamen tersebut terdapat tim seniornya, yakni Over Power yang justru berada di peringkat kedua. “Awalnya minder, tapi pas main kok ada peluang menang. Ya sudah, hajar saja,” katanya sambil tersipu malu saat mengetahui dirinya tengah diliput Koran Pantura.

Saat ditanya apa tips kemenangannya, Aldo dengan polos hanya menyebut sering-sering  mabar (main bersama).  Sebab, dengan mabar itu akan terbangun komunikasi yang baik antara player (pemain) dalam satu tim. “Tanpa disuruh pun nanti sudah tahu tugasnya masing-masing. Siapa yang jadi umpan, siapa yang nembak, dan siapa yang melindungi,” katanya.

Saat ditanya sudah berapa kali juara, Aldo langsung menjawab bahwa dirinya sudah menjuarai 7 turnamen tingkat lokal di Kabupaten Probolinggo. Namun yang paling berkesan baginya adalah ketika menjuarai turnamen yang diadakan oleh komunitas di J’bing Cafe Dringu. “Pialanya besar, saya senang sekali pas bawa piala itu pulang,” sebutnya.

Namun, di balik sukanya Aldo, terdapat juga pengalaman pahit baginya. Itu terjadi ketika dia mengikuti turnamen di Desa Dandang, Kecamatan Gading beberapa bulan lalu. Saat itu tim Aldo yang harus bersaing dengan tim-tim E-Sport yang anggotanya dewasa. Mereka terlibat perang mental dengan saling sorak sebagai upaya provokasi terhadap tim lawan.

“Kena mental lawannya, akhirnya dia pulang dan kembali sambil bawa celurit dan teriak akan bacok saya dan teman satu tim. Di situ saya tidak takut karena saya merasa sudah menang dan menganggapnya biasa saja,” ujarnya sambil membetulkan posisi kacamatanya.

Tak kurang dari 8 jam sehari Aldo menghabiskan waktunya untuk bermain game. Namun demikian aktifitasnya itu disebutnya tidak mengganggu sekolahnya. Karena dia terbiasa belajar dan mengerjakan tugasnya di sore hari. Sehingga ketika malam hari dia bisa leluasa bersama kakaknya bermain game. “Jarang belajar, tapi nilai saya tidak ketinggalan kok. Buktinya saya lulus dan bisa melanjutkan ke bangku SMP,” sebutnya.

Sementara itu, Sainul Fatah sang ayah yang sedari tadi senyum-senyum sendiri melihat anaknya diwawancarai, akhirnya jadi serius ketika tiba-tiba pertanyaan diarahkan kepadanya.  Sainul yang merupakan pengusaha properti asal Kraksaan mengaku mendukung seluruh aktifitas kedua anaknya.

“Saya antar jemput mereka ke arena perlombaan, dan saya lakukan itu selalu tanpa absen. Tujuannya satu cuma untuk memastikan mereka tidak terpengaruh hal-hal yang negatif. Untuk bermain game masih saya terima, tapi kalau merokok dan hal negatif lainnya sebagai orang tua saya akan mencegahnya,” ujar.

Dijelaskan Sainul, bahwa kedua anaknya yakni Feri dan Aldo sudah mengenal game online sejak tahun 2015 lalu. Pada saat itu ibu dari Feri dan Aldo meninggal dunia, dan hal itu membuat keluarganya terpukul hebat. Namun perlahan anak-anak mulai melupakan kesedihannya dengan bermain game.

“Tiap minggunya saya keluar uang satu setengah juta untuk membeli voucher game untuk Aldo anak saya ini. Belum lagi kalau pas mau ganti handphone, karena dianggap lemot. Pasti mintanya hp gaming yang harganya hampir dua puluh juta,” jelasnya.

Pernah kata Sainul, Aldo sampai membanting HP Samsung S20 karena dianggap lemot dan jadi biang kekalahan dalam bermain game. Akhirnya dia minta ganti HP Asus ROG yang pada waktu itu harganya sekitar Rp 12 juta. Tetapi HP itu dianggap masih lemot,  akhirnya Aldo ganti lagi HP I Phone 12 Pro yang harganya sekitar Rp 20 juta.

Terakhir karena bosan akhir beli lagi Asus ROG terbaru yang harga sekitar Rp 20 juta. “Pokok kalau ditotal untuk HP saja, yang kecil ini habis sekitar Rp 50 juta. Belum kakaknya,” katanya.

Meski telah menghabiskan puluhan juta bahkan ratusan juta kalau ditotal,  Sainul mengaku sama sekali tak menyesal. Baginya, ini menjadi caranya membahagiakan kedua anaknya sepeninggal ibunya.

“Mau bagaimana lagi. Kalau tidak dituruti, nanti mereka ngambek. Nanti saya tidak disapa, tidak mau makan, tidak mau sekolah, dan nantinya sakit. Saya juga yang repot. Biar sudah, yang penting keduanya senang dan berprestasi positif. Maka saya akan support semampu saya,” tegasnya.

Saat ditanya apakah dia bangga dengan prestasi kedua anaknya yang jadi langganan juara di turnamen game online, Sainul dengan lugas menjawab bangga. “Orang tua mana yang tak bahagia melihat anaknya berprestasi. Selama mereka berprestasi di hal yang positif, selama itu pula saya akan menyupportnya. Karena itulah tugas seorang ayah,” tuturnya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel