Lain-lain

Kesetrum, 4 Warga Jati Tewas

PROBOLINGGO – Gara-gara kena setrum listrik, 7 warga Jalan Sunan Kalijaga, RT/RW 002/001 Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, mengalami nasib sial, Jumat (18/1) sekitar pukul 20.30. Sejumlah 4 warga tewas, sementara 3 lainnya dinyatakan selamat. Seorang warga yang selamat saat ini dirawat di Rumah Sakit Dharma Husada.

Empat korban tersebut adalah Sri Wahyuni,
Totok, serta pasutri Joko Sandy (33) dan Elistya Hutahuruk (33).

Awalnya, para korban tewas sempat dibawa ke RSUD dr Moh. Saleh. Namun mereka tak tertolong. Keluarga korban langsung pingsan secara bergantian begitu petugas RSUD menyatakan para korban tak bisa diselamatkan.

Selanjutnya, para korban dibawa dan disemayamkan di rumah duka. Jerit dan tangis sanak keluarga dan tetangga pecah saat jasad tiba di rumah duka. Rencananya, 4 korban dimakamkan Sabtu pagi, di pemakaman umum kelurahan setempat.

Kusnadi (53), Ketua RT/RW 002/001 kelurahan setempat menceritakan, awalnya yang tersengat listrik Sri Wahyuni alias Bu Sumi. Di saat hujan mereda, ia keluar rumah khawatir terjatuh karena di depan rumahnya tergenang air. Sumi berpegangan ke tiang teras depan rumah Joko sisi timur yang teraliri arus listrik. “Sumi menjerit. Suaminya yang mendengar langsung keluar dan hendak menolong,” terang Kusnadi.

Karena merasakan arus listrik, suami Sumi mundur alias tidak jadi menarik tubuh istrinya. Dalam hitungan detik, Elistya Hutahuruk yang menempati rumah, keluar karena mendengar jeritan minta tolong. Suami Sumi pun mengingatkan Elistya, namun tidak digubris. Elistya memegang besi tiang penyangga atap rumahnya, bermaksud menolong Sumi. “Ya, kesetrum juga,” tambah ketua RT.

Selanjutnya, giliran Joko, suami dari Elsitya, keluar membuntuti istrinya. Tanpa pikir panjang Joko menarik lengan istrinya. Tentu saja, ia juga ikut kesetrum dan meninggal bersama istrinya. Selanjutnya Totok yang mendengar kegaduan keluar rumah. Melihat kejadian tersebut, pria yang rumahnya di belakang rumah Joko tersebut hendak menolong Joko. “Totok juga kesedot setrum. Ia akhirnya meninggal,” kata Kusnadi.

Tak lama kemudian, listrik padam dan warga kemudian membawa empat jasad tersebut. Saat ditanya, apakah ada warga yang melapor ke PLN kalau ada warga kesetrum Kusnadi mengaku, tidak tahu. Menurutnya, seperti biasa jika hujan wilayahnya listrik padam.

“Enggak ada yang menghubungi PLN. Lampu padam sendiri. Di sini sudah biasa, kalau hujan, listrik padam dan air menggenang,” terang Kusnadi.

Supri (51), seorang warga yang selamat dari sengatan listrik mengatakan, dirinya selamat karena kakinya merasakan aliran listrik. Kala itu ia hendak menarik tubuh korban tewas bernama Totok (55) yang tak lain adalah kakak kandungnya.

“Saya merasakan sengatan listrik di kaki. Saya langsung melompat ke belakang dan gak jadi menolong kakak saya. Airnya ada setrumnya,” katanya di lokasi kejadian.

Supri menerangkan, malam itu ia sedang berada di rumahnya yang tak jauh dari Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan rumah Totok. Mendengar suara jeritan, ia keluar dan mendapati 3 orang sudah terkapar. Saat itu Supri melihat Totok masih bergerak. Supri lantas berinisiatif menariknya.

“Akhirnya, kakak meninggal. Ada 4 orang yang meninggal. 2 laki laki dan 2 perempuan,” ujarnya dengan muka sedih.

Supri mengaku tidak tahu pasti awal kejadiannya. Yang jelas, keempatnya meninggal akibat tersengat listrik di tiang besi penyangga teras rumah yang dikontrak pasutri Joko Sandy dan Elistya Hutahuruk. Pasutri ini juga meninggal dalam peristiwa yang menggemparkan warga tersebut.

Selain Supri, warga yang selamat adalah Zaki (3), anak dari pasutri Joko Sandy dan Elistya Hutahuruk dan Musdalifah. Zaki syok dan sempat menagis histeris dan beberapa kali pingsan.

Dari informasi yang dihimpun, diketahui bahwa pasutri Joko Sandy dan Elistya Hutahuruk pernah tinggal di Jalan Cokroaminoto Gang III, Kelurahan/Kecamatan Kanigaran. Belakangan, pasutri tersebut ngontrak di rumah yang menjadi TKP. (gus/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan