Lain-lain

Sekitar 60 jeep wisata Bromo antre melakukan uji kir di balai uji Desa Alassumur Kulon, Kota Kraksaan, kemarin (16/1). (Choirul Umam Masduqi/Koran Pantura)

Puluhan Jeep Bromo Uji Kir

KRAKSAAN – Sekitar 60 unit jeep wisata Bromo menjalani uji kir, kemarin (16/1). Syarat tersebut diterapkan oleh pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Uji tersebut merupakan salah satu syarat wajib agar puluhan jeep tersebut bisa beroperasi dalam tata kelola Bromo.

Uji kir dilakukan di balai uji di Desa Alassumur Kulon, Kota Kraksaan. Kegiatan uji kemarin adalah yang pertama kali dilakukan di kalangan jeep wisata Bromo. Khususnya setelah lama vakum, setidaknya sekitar 10 tahun. Kegiatan ini diinisiasi oleh Perkumpulan Penyedia Layanan Akomodasi dan Transportasi Wisata (Patra). “Memang sudah lama tidak ada uji kir. Kami mencoba mengawali. Apalagi ini juga salah satu syarat untuk jeep wisata bisa masuk kawasan Bromo,” terang Ketua Patra Gus Han.

Pria asal Desa Ngepung, Kecamatan Sukapura ini mengungkapkan, dalam proses uji kir, pemilik jeep mendapat banyak manfaat. Secara umum, manfaat itu adalah jeep wisata memiliki status layak pakai dan layak angkut wisawatan. “Manfaat lain, kita tahu apa yang kurang dari mobil kita. Dalam proses uji kir ini semuanya dicek, mulai pengereman, lampu-lampu, dan kelistrikan mobil,” ungkapnya.

Kepala Dishub Kabupaten Probolinggo Heri Sulistyanto mengapresiasi uji kir yang dilakukan puluhan jeep tersebut. Ia mengungkapkan, sejak 10 tahun terakhir, khususnya pasca erupsi Bromo pada 2010 lalu, tidak banyak jeep wisata melakukan uji kir. “Harapan kami tidak hanya 60 unit saja. Tapi jeep-jeep lainnya di kawasan Bromo juga melakukan uji kir,” ujar mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Probolinggo ini.

Terkait hasil uji kemarin, Heri menyatakan bahwa sebagian besar jeep wisata sudah memenuhi syarat. Akan tetapi, ada beberapa unit jeep yang mendapat perhatian karena rem yang kurang pakem. “Nah, sebelum diluluskan, kami suruh perbaiki dulu agar saat dites, rem mereka pakem. Rem ini menjadi faktor utama apalagi medan di kawasan Bromo naik turun,” katanya.

Ke depan, pihaknya akan melakukan pendekatan lebih kepada pelaku jasa transportasi di kawasan Bromo. “Ini bagian dari memberikan pelayanan kepada wisatawan. Dalam artian, saat mengantar tamu kendaraan mereka layak jalan, minimal tidak ada trobel di jalan,” kata Heri. (rul/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan