Lain-lain

Romli Jamaluddin, Petarung MMA asal Randujalak yang Bercita-cita Menjadi Pesepakbola


BESUK – Romli Jamaluddin (24) merupakan Warga Desa Randujalak, Kecamatan Besuk yang pernah bertanding di ring Mixed Martial Arts (MMA) Probolinggo. Sejak kecil ia sudah menggemari dunia olahraga.

Kendati menekuni bela diri, mulanya ia bercita-cita ingin menjadi pesepakbola profesional agar bisa membanggakan orang tuanya.

Hal itu dibuktikannya dengan terus mengasah kekuatan fisiknya dengan merutinkan lari pagi. “Sejak kecil memang sudah suka lari pagi biar bisa bagus main bola,” katanya.

Pada saat memasuki Sekolah Menegah Pertama (SMP), kegiatannya untuk melatih fisiknya kerap berbenturan dengan agenda sekolah, sehingga cita-citanya yang ingin menjadi pesepakbola profesional memudar.

Namun, hal tersebut membawa berkah tersendiri baginya. Dengan minimnya waktu yang dimiliki untuk bermain bola, justru ia memiliki kesibukan lainnya.

“Ada kemah di sekolah jadi tidak bisa main bola rutin lagi. Kebetulah saat kemah itu ada teman yang ngajak ikut pencak silat,” terangnya.

Ajakan dari temannya untuk menekuni bela diri pencak silat itu ia amini. Sebab, menurutnya pencak silat tidak jauh berbeda dengan sepak bola yang sama-sama memerlukan latihan fisik.

“Mulai dari kelas 2 SMP atau 2011 lalu saya mulai ikut pencak silat. Inilah awal mula saya bisa seperti sekarang,” terangnya.

Romli melanjutkan, dirinya sempat istirahat dari dunia silat lantaran tidak memiliki biaya untuk latihan dan mulai fokus mendalami ilmu agama di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Kraksaan.

Namun, meski sudah bertahun-tahun tidak berlatih pencak silat, keinginannya untuk membahagiakan orang tua melalui seni olah raga tidaknya hilang begitu juga.

Pada 2020 lalu, ia memutuskan untuk kembali berlatih.

“Tahun 2014 tidak latihan lagi, baru dari tahun yang lalu mulai latihan lagi, dan kebetulan di GOR Sasana Krida itu ada pelatih jebolan MMA, itu yang membuat saya lebih semangat lagi untuk berlatih,” ungkapnya.

Di bulan puasa ini, Romli mengubah jadwal latihannya. Biasanya ia latihan fisik dengan lari di pagi hari, namun kini dilakukannya pada sore hari. Sedangkan, untuk latihan di angkat beban dan beberapa teknik kuncian bela diri yang biasanya sepekan bisa sampai 3 kali, kini dilakukannya 2 kali.

“Kalau fisik masih tetap setiap hari, cuma ganti ke sore. Kalau dengan pelatih, sekarang setiap Rabu dan Minggu,” terangnya.

Romli mengaku, saat ini yang menjadi fokusnya ialah latihan tinju dan gulat. Dua teknik bela diri ini merupakan program utama dari latihannya sebelum tampil kembali di ring octagon. Pasalnya, dalam debutnya bertanding di MMA On Pride, ia tidak bisa mengimbangi lawannya dalam 2 teknik tersebut.

“Kalau kuncian saya tidak ada masalah, lawan saya saat itu (Alif, red) tidak bisa mengunci saya. Tapi saya kalah karena kurang latihan di tinju dan gulat,” terangnya.

Meski kalah pada pertandingan pertama di MMA One Pride, Romli mengaku tidak kapok untuk kembali maju di ring octagon. Justru hal itulah yang membuatnya kini lebih semangat untuk berlatih.

“Tidak (kapok, red), saya tetap ingin bertanding lagi. Saya ingin membahagiakan orang tua dan mengharumkan nama probolinggo dengan prestasi,” tuturnya. (ay/awi)


Bagikan Artikel