Lain-lain

Baru Tiga Bulan, Probolinggo Dihantam 56 Bencana


PROBOLINGGO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo mencatat, dalam triwulan pertama tahun ini, telah terjadi sebanyak 56 peristiwa bencana. Jumlah bencana sebanyak itu meliputi bencana alam dan 1 bencana non alam.

Lima puluh enam bencana itu terdiri dari beberapa jenis, yaitu  tanah longsor sebanyak 17 kejadian; bencana angin kencang 13 kejadian; bencana rob/abrasi 3 kejadian; bencana banjir/genangan 22 kejadian; dan 1 bencana non alam pandemi Covid-19.

Puncaknya adalah bencana banjir yang merendam 4 desa di Kecamatan Dringu pada akhir Februari hingga pertengahan Maret lalu. Banjir yang menerjang sebanyak 4 kali berturut-turut itu telah merendam ribuan rumah dan merusak beberapa infrastruktur di wilayah terdampak.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo mengatakan, berdasarkan hasil pemetaan dampak bencana, terdapat 9.753 rumah rusak akibat terdampak bencana alam; 24 fasilitas umum rusak; 23 pohon tumbang; 150 hektare lahan rusak; 231 warga mengungsi; 3 luka-luka; dan 1 warga meninggal dunia.

“Kondisi cuaca ekstrem akibat masa peralihan musim atau pancaroba, membuat jumlah bencana meningkat drastis di triwulan awal tahun ini. Puncaknya hingga penetapan status darurat bencana banjir selama 21 hari oleh Bupati Probolinggo,” kata Tutug kepada Koran Pantura,   Minggu (4/4).

Selain bencana alam, disebutkan Tutug bahwa bencana non alam pandemi Covid-19 di kabupaten Probolinggo juga banyak memakan korban. Berdasar laporan Satgas Penanganan Covid-19, terdapat 3.161 warga positif Covid-19. Rinciannya 2.960 orang di antaranya sembuh, 14 orang dirawat, dan 187 orang dinyatakan meninggal dunia akibat Covid-19.

“Potensi bencana akan terus ada. Karena itu kami terus melakukan mitigasi resiko dengan tujuan untuk menghindarkan jatuhnya korban jiwa akibat bencana alam. Sedangkan untuk bencana non alam tetap harus taat pada prokes untuk menekan angka penyebarannya,” sebutnya.

Sebagai bentuk mitigasi resiko, tambah Tutug, pihaknya sudah memetakan wilayah yang berpotensi terjadi bencana berdasarkan kondisi geografis. Bencana banjir berpotensi terjadi di 3 kecamatan, meliputi Dringu, Paiton dan Kraksaan. Sementara potensi bencana tanah longsor terjadi di Kecamatan Krucil dan Kotaanyar. Potensi bencana angin kencang terjadi di Kecamatan Paiton, Bantaran dan Gading.

“Semoga dampak dari potensi bencana yang terjadi bisa kami minimalisir, dan kecepatan penanganan bencana dari petugas kami di lapangan jauh lebih cepat dan tanggap. Namun memang kami butuh tambahan personel di lapangan,” kata Tutug. (tm/iwy)


Bagikan Artikel