Lain-lain

Trauma, Warga Bangun Tangkis Banjir


DRINGU – Diterjang banjir hingga empat kali membuat warga 4 desa di Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo trauma. Mereka tak ingin banjir kembali terjadi di masa mendatang. Sebagian warga memutuskan untuk membangun pagar sebagai penangkis banjir, meski dengan biaya sendiri.

Dari pantauan Koran Pantura, selama sepekan terakhir warga disibukkan dengan kegiatan membersihkan lumpur di dalam rumah dan pekarangannya. Mereka juga sibuk membangun pagar yang difungsikan sebagai tangkis penahan banjir. Hal itu sebagai antisipasi jika suatu saat ada potensi banjir akibat luapan sungai Kedunggaleng.

“Kapok, Mas. Banjir dan lumpurnya tambah tinggi dan cukup banyak. Perabotan di dalam rumah rusak semua. Jadinya buat tangkis saja biar tidak terlalu parah,” kata Bambang, seorang warga Dusun Bandaran, Desa Dringu, Rabu (17/3).

Dengan tangkis tersebut, air banjir yang masuk ke dalam rumah dapat diminimalisir. Setidaknya, lumpur yang terbawa banjir tidak langsung masuk ke dalam rumah. Oleh karena itu, tangkis yang dibuat permanen itu dilengkapi dengan sekat penahanan agar bisa dibuka tutup ketika banjir datang.

“Kalau banjirnya lebih tinggi dari tangkis, memang airnya akan masuk rumah. Tapi yang penting lumpurnya tidak terlalu tebal,” terangnya.

Bambang cukup beruntung karena bisa membangun pagar untuk menangkis banjir. Berbeda dengan Husein, warga Dusun Gandekan, Desa Dringu. Rumahnya berada tepat di bawah tanggul sungai Kedunggaleng. Ia hanya bisa pasrah jika suatu ketika banjir datang lagi.

“Mau ditangkis bagaimana wong lebih tinggi tanggulnya daripada rumah saya. Harapan kami satu-satunya ya cuma supaya tanggul yang jebol itu segera diperbaiki. Kalau tanggulnya masih belum diperbaiki, dibangun tangkis pun percuma,” keluhnya.

Kini dirinya sering memantau perkembangan cuaca yang terjadi di wilayah selatan Probolinggo. Seperti Kecamatan Sumber, Kuripan, dan Bantaran yang merupakan daerah hulu sungai Kedunggaleng.

“Saya punya saudara di sana. Kalau di sana hujan deras, biasanya mereka nelpon untuk mengingatkan kami di sini supaya waspada adanya kemungkinan banjir. Dari situ setidaknya saya masih punya kesempatan untuk mengevakuasi barang-barang dan orang tua saya ke pengungsian,” ungkap Husein. (tm/eem)


Bagikan Artikel