Lain-lain

2018, 76 Bencana Alam

KRAKSAAN – Sepanjang tahun 2018 lalu, telah terjadi sebanyak 76 bencana alam di wilayah Kabupaten Probolinggo. Data tersebut dihimpun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Dari puluhan peristiwa tersebut, Kecamatan Dringu adalah wilayah yang paling sering dilanda bencana alam.

Bencana alam yang terjadi yakni banjir bandang, banjir rob, angin kencang, tanah longsor, kekeringan, dan dampak gempa bumi.

Kepala Pelaksana BPBD setempat Anggit Hermanuadi melalui Kepala Bidang Kedaruratan Bencana Sugeng Yoga mengatakan, bencana alam yang kerap terjadi di Dringu adalah banjir. Bahkan Dringu termasuk wilayah langganan banjir. “Banjir muncul dari luapan air Kali Kedungdalem yang berasal dari kawasan selatan Kabupaten Probolinggo,” ungkapnya.

Berbicara banjir di Dringu, Sugeng Yoga mengungkapkan bahwa luapan air dari Kali Kedungdalem terjadi bukan hanya karena banjir kiriman dari selatan. Tapi juga karena bersamaan dengan terjadinya banjir rob atau gelombang pasang dari laut Probolinggo. “Selain itu juga angin kencang dan dan kecelakaan air. Jadi, di Kecamatan Dringu total ada 9 kali bencana alam,” ungkapnya.

Berikutnya, wilayah terdampak bencana alam terbanyak kedua adalah Kecamatan Gending. Di kecamatan ini, terjadi 8 kali bencana alam. Terdiri dari 2 kali banjir, 2 kali kebakaran hutan dan lahan, dan 4 kali angin kencang.

“Di kecamatan-kecamatan lain didominasi bencana kekeringan di musim kemarau. Seperti di Kecamatan Kuripan, Bantaran, Wonomerto, dan Lumbang,” sebutnya.

Peristiwa banjir bandang dan longsor di Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris, merupakan bencana alam terakhir yang terjadi di Kabupaten Probolinggo. Beberapa fasilitas publik seperti sekolah dan jembatan rusak berat. “Bahkan ada 2 orang meninggal dunia karena bencana alam ini,” terangnya.

Penanganan pasca bencana telah dilakukan oleh Pemkab. “Seperti pemberian bantuan sementara berupa makanan siap saji dan keperluan darurat lainnya. Sudah didroping begitu bencana terjadi,” kata Sugeng.

Beberapa infrastruktur seperti tembok penahan tebing juga sudah dibangun. Menurutnya, bantuan dari BPBD bersifat sementara. Untuk pembangunan infrastruktur, BPBD mengusulkan kepada dinas terkait untuk dilakukan pembangunan. “Kami hanya memberikan rekomendasi untuk infrastruktur yang bersifat permanen untuk kemudian ditindaklanjuti oleh Dinas terkait,” terangnya.

Memasuki tahun 2019, Sugeng berharap masyarakatuntuk tetap waspada. Ia juga berharap masyarakat bisa mengenali tanda bahaya alam sekitarnya. “Seperti kalau turun hujan, kalau turun lebih dari 3 jam, warga wajib waspada. Apalagi kalau rumahnya berada di pinggiran kali,” imbuanya. (rul/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan