Lain-lain

Kisah Sedih Bocah tanpa Anus

PROBOLINGGO – Ahmad Husen, bayi yang dilahirkan pada 17 November 2018 lalu menyisakan kisah sedih. Putra pasangan suami istri Samsul (39) dan Suratiningsih (31), warga Kelurahan Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo itu tidak memiliki anus.

Samsul sehari-harinya bekerja sebagai penjaga malam (waker) garasi truk di dekat rumahnya. Ia tak mampu menanggung biaya medis yang diperlukan putranya. Jangankan operasi membuat lubang anus, untuk biaya membeli tempat menampung kotoran anaknya pun Samsul tidak mampu.

Ahmad Husen kini berusia dua bulan. Mulanya ia dilahirkan Suratiningsih di RSAB Muhammadiyah Kota Probolinggo. Lalu karena kondisinya, Ahmad Husen dibawa ke RSUD dr Soetomo Surabaya untuk menjalani operasi pembuatan saluran pembuangan kotoran yang menembus kulit perut sisi kiri.  

Kini, anak ketiga pasutri Samsul dan Suratiningsih itu sudah kembali tinggal bersama orang tuanya di Gang Rejeki, RT 2 RW 1, Dusun Krajan, Kelurahan Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo. “Kewajiban kami kontrol ke Surabaya setiap bulan,” ucap Suratiningsih saat ditemui Minggu (13/1) siang.

Kewajiban itu dirasa memberatkannya. Atas upayanya, pihak RSUD akhirnya membolehkan Ahmad Husen kontrol di RSUD dr Moh. Saleh  Kota Probolinggo.

Suratiningsih bercerita, saat hamil tidak ada gejala aneh yang dirasakan.  “Normal. Tidak ada keluhan sama sekali,” kata perempuan yang karib disapa Ningsih itu. 

Pada 17 November 2018 pukul 12.45, Ningsih melahirkan di RSAB Muhammadiyah Kot Probolinggo. Bayi laki-laki dengan berat 3,5 kilogram dan panjang 52 centimeter itu kemudian diberi nama Ahmad Husen. Namun, sehari setelah kelahirannya, bayi laki-laki itu kemudian diketahui tidak memiliki anus. Itu setelah si bayi mengalami perut kembung. 

Hari itu juga, Ahmad Husen dibawa ke RSUD dr Sutomo Surabaya untuk menjalani operasi pembuatan saluran pembuangan kotoran. Awalnya, tempat menampung kotoran bayinya atau kantong kotoran dibelikan di apotek. Namun, karena tidak ada biaya, akhirnya diganti dengan kain dan plastik buatan sendiri. “Kan kotorannya masih berupa air. Jadi, dengan gombal atau kain dan plastik sudah bisa diatasi,” ujar Ningsih,

Ia berterus terang tidak mampu membeli kantong kotoran yang harganya Rp 50 ribu per biji. Sedangkan bayinya buang kotoran 3 kali sehari. “Uangnya siapa yang mau dipakai membeli?  Suami saya kerjanya penjaga malam garasi. Penghasilannya Rp 1 juta setiap bulan. Baru 2 minggu lalu naik Rp 1 juta. Sebelumnya, ya kurang dari itu,” tutur Ningsih.

Samsul sendiri saat ini mulai memikirkan biaya operasi pembuatan lubang anus bayinya. Menurutnya, Ahmad Husen akan dioperasi setelah beratnya mencapai 10 kilogram. ”Enggak tahu pastinya. Pokoknya, setelah berat anak saya 10 kilogram. Paling lama, katanya 1 tahun lagi. Paling cepat 6 bulan lagi,” tandasnya.

Samsul mengaku pusing memikirkan biaya operasi anaknya. Ia tidak yakin, BPJS mau membiayai operasi kedua untuk anaknya. Sebab, proses melahirkan dan operasi pembuatan saluran pembuangan kotoran sudah ditanggung BPJS. “Kalau tidak dibiayai BPJS, darimana saya dapat biaya. Sedangkan gaji pas-pasan. Bahkan untuk biaya sehari-hari saja, kurang,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan