Lain-lain

Angkringan Payung Teduh, Pengunjung Senang, Komunitas Basket Menolak


KRAKSAAN – Ada nuansa baru menghiasi wajah malam Kota Kraksaan. Sebuah kafe beroperasi di halaman Sasana Krida Kota Kraksaan. Namanya Kafe Payung Teduh. Konsepnya kafe outdoor. Namun, keberadaan kafe eksotis nan romantis ini masih jadi polemik.

Kafe  Payung Teduh di halaman Sasana Krida Kota Kraksaan mulai dibuka sejak Sabtu (7/11) malam. Pada kali pertama dibuka dari pukul 18.00 sampai 23.00 itu, langsung diserbu oleh para remaja Kota Kraksaan dan sekitarnya.

Bagaimana tidak, konsep tempat duduk yang berjarak 2 meter, dengan hiasan payung di setiap mejanya sangat memantik minat anak muda untku nongkrong. Nuansa outdoor dengan panorama langit terbuka, semakin menarik dinikmati.

Terlebih lagi menu makanan ala angkringan yang dibandrol murah meriah, serta iringan alunan musik indi, semakin mengundang para penikmat kopi. Tak sedikit dari mereka yang asyik berbincang sambil menyantap makanan.

Gelak tawa dengan iringan lagu baper (bawa perasaan) menjadikan nuansa Kafe Payung Teduh semakin hidup. Saling sahut antar penongkrong terus bergejolak ketika iringan lagu baper itu disenandungkan.

“Kami ingin menjamu masyarakat Kota Kraksaan dan sekitarnya dengan kafe ini. Harga menu murah dengan konsep yang tidak ada duanya,” kata Susilo, Kabag Perekonomian Pemkab Probolinggo, usai grand opening.

Lambat laut, menurutnya, kafe itu akan merangkul para ukm dan pelaku usaha lainnya untuk buka tenda di lokasi. Tujuannya agar dapat membantu mendongkrak perekonomian warga.

Tentu, kafe yang didirikan di tengah pandemi ini sangat memberlakukan protokol kesehatan. Para penikmat kopi yang ingin berkafe, diwajibkan untuk bermasker, cuci tangan dan menaati protokol kesehatan.

“Soal protokol kesehatan wajib dilakukan. Tidak menaati aturan, tidak diperkenankan masuk,” ungkapnya.

Nahda, salah satu pengunjung mengaku sangat terkesima dengan konsep kafe itu. Baru kali pertama ada kafe outdoor yang menyajikan nuansa eksotis nan romantis. “Pokoknya, sepulang dari kafe, jangan ada yang meninggalkan apapun selain kenangan,” akunya.  

Namun, hadirnya angkringan payung teduh di lapangan basket Sasana Krida Kraksaan masih mendapatkan penolakan dari sejumlah komunitas basket. Hal itu lantaran keberadaan angkringan tersebut dianggap mengganggu aktifitas olahraga basket yang biasa dilakukan di fasilitas umum tersebut.

Penolakan tersebut disampaikan melalui Pengkab Perbasi Kabupaten Probolinggo yang diwakili oleh salah satu pelatihnya yakni Abdul Hatta. Ia menyebut bahwa semenjak adanya aktifitas angkringan tersebut, kenyamanan dari para pemain basket yang berasal dari berbagai komunitas basket menjadi terganggu. Pasalnya meja angkringan yang dipakai untuk tempat pelanggan diletakkan hingga menutupi seluruh lapangan basket tersebut.

“Pada intinya, komunitas basket yang ada di Kraksaan ini, menyampaikan keberatannya atas keberadaan akngkringan tersebut. Dan meminta kepada kami untuk mengembalikan fungsi lapangan tersebut sebagai lapangan basket, bukan sebagai lapangan angkringan,” ujar Hatta, Minggu (8/11).

Dijelaskan pula bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan Perusda kabupaten Probolinggo selaku pengelola GOR Sasana Krida Kraksaan. “Kami masih rapatkan persoalan ini. Pada intinya kami juga berharap adanya win-win solution di dalamnya. Terlebih kami menyadari saat ini tengah dalam masa pandemi Covid-19,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hatta menyebut pada dasarnya terdapat usulan yang sama-sama menguntungkan baik untuk Perusda maupun bagi komunitas basket itu sendiri. Di mana lapangan basket yang ada saat ini bisa disekat menggunakan jaring kawat agar bola basket tidak sampai keluar dan mengganggu usaha angkringan yang sudah ada.

“Namun untuk keputusannya masih akan dibahas lagi dalam rapat yang tengah kami lakukan saat ini. Semoga olahraga basket bisa terus jalan, dan usaha angkringan itu juga bermanfaat dengan mendatangkan income bagi pengelolanya,” tuturnya.

Diketahui bahwa semenjak adanya usaha angkringan payung teduh yang dimulai sejak pukul 18.00 petang itu, praktis aktifitas olahraga yang dilakukan oleh para komunitas basket menjadi tidak bisa dilakukan lagi pada malam hari. Hal inilah yang kemudian memicu penolakan atas keberadaan angkringan tersebut.  (yek/tm/iwy)


Bagikan Artikel