Lain-lain

Bawang Merah Diserang Hama, Petani Gagal Panen


DRINGU – Serangan hama secara sporadis menyerang sejumlah lahan pertanian bawang merah di Kabupaten Probolinggo. Dampaknya, para petani mengalami gagal panen dan berimbas pada minimnya stok bawang merah di sentra pasar bawang Dringu.

Berdasarkan pantauan Koran Pantura, salah satu lahan pertanian bawang merah yang mengalami gagal panen berada di Desa Randuputih, Dringu. Di desa tersebut terdapat sejumlah petak lahan pertanian bawang merah yang mengalami gagal panen akibat terserang berbagai jenis hama. Mulai dari serangan hama ulat daun, moler  (daun layu), hingga busuk daun (pucuk daun menguning).

Hasan (48), salah seorang pemilik lahan di Desa Randuputih mengungkapkan dirinya terpaksa harus merugi hingga puluhan juta akibat gagal panen. Hitungan tersebut meliputi biaya pembelian bibit, pupuk, obat, sewa buruh tani, hingga sewa jaring.

“Kalau ditotal, lebih Rp 25 juta kerugian yang saya alami di musim tanam ini. Semuanya karena serangan hama ulat daun dan virus atau jamur yang membuat daun bawang berusia 21 hari itu menguning dan kering,” ungkapnya, Minggu (4/10).

Dijelaskannya bahwa kegagalan panen saat ini merupakan yang terparah yang dialaminya. Sebab, kerusakan tanaman bawang akibat serangan hama dan virus sebelumnya, selalu dapat ditangani dengan penyemprotan pestisida dan pemasangan jaring.

“Tapi entah kenapa kali ini, meskipun pakai jaring tetap saja gagal panen. Padahal pupuk dan takaran obat yang saya berikan sama dengan sebelum-sebelumnya. Lebih-lebih jaring yang saya sewa juga kondisinya masih bagus,” jelasnya.

Alih-alih mendapatkan penjelasan tentang penyebab menggilanya serangan hama pada tanaman bawangnya. Hasan juga menyebut bahwa kondisi lahan tanaman bawang yang ada disebelah lahan miliknya juga juga mengalami nasib yang sama.

“Kalau yang di sebelah itu, kondisinya lebih parah, karena tak memakai jaring tanaman bawangnya bahkan hanya berusia 14 HST (Hari Semai Tanaman, red). Tetapi sudah gagal panen akibat serangan hama dan virus,” sebutnya.

Alhasil gagal panen yang dialami oleh para petani bawang merah ini, berdampak pada stok bawang merah di gudang sentra pasar bawang Dringu. Pasalnya dalam kondisi normalnya, gudang para pedagang bawang merah stoknya bisa menyimpan hingga ratusan ton pada kondisi biasanya. Tetapi, lantaran gagal panen kali ini, stok yang tersedia di gudang tersebut hanya berkisar sekitar puluhan ton.

“Biasanya stok bawang merah di gudang pasar kami bisa 100 ton sampai 250 ton. Tapi belakangan ini, stok bawang merahnya turun hingga tersisa sekitaran 22 ton saja,” ujar Kepala Pasar Bawang Dringu Sutarman, kemarin.

Menurutnya, minimnya pasokan bawang merah dari petani. Belum berpengaruh pada harga bawang merah di pasaran. Meski diakuinya jika kondisi ini terus berlangsung, maka bukan mustahil harga bawang merah akan melambung tinggi. “Memang ada pasokan bawang merah dari luar daerah, tapi jumlahnya tidak banyak. Kalau sekarang, harga bawang merah masih stabil di kisaran Rp 22 ribu per kilogramnya,” katanya.

Dia pun membenarkan jika minimnya pasokan bawang merah dari petani dikarenakan  gagal panen di sejumlah daerah penghasil. Di antaranya di kecamatan Dringu dan Gending. Menurutnya, serangan hama dan virus di kedua kawasan tersebut memang luar biasa dan dikeluhkan oleh para petani. “Kalaupun ada petani yang berhasil panen, kualitas bawang merah hasil panenannya juga tak sebagus biasanya,” terangnya.

Sementara, Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Panganan dan Pertanian Kabupaten Probolinggo Didik Tulus Prasetyo menyampaikan, pihaknya belum mendapatkan laporan adanya tanaman bawang merah yang rusak diserang hama.

Bahkan disebutnya beberapa waktu lalu, pihaknya sempat mengadakan pertemuan dengan koordinator petani, namun dalam pertemuan tersebut. Perwakilan kelompok tani itu tidak menyampaikan kondisi demikian lantaran masa tanam bawang merah terjadi antara bulan April-Mei dan panen rayanya di bulan Juli-Agustus.

”Nanti kami akan coba turun untuk memastikan kondisi tanaman bawang merah milik petani yang gagal panen. Karena biasanya panen raya tanaman bawang merah ada  di bulan Agustus. Mungkin mereka yang gagal tanam merupakan kelompok petani yang tanam bawang merahnya di akhir-akhir,” ujarnya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel