Lain-lain

Terdampak Corona, Usaha Wisata Bromo Tiarap


SUKAPURA – Sudah sepekan berlangsung penutupan destinasi wisata di Kabupaten Probolinggo gegara wabah corona.  Di kawasan wisata Gunung Bromo, Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo, saat ini semuanya tiarap. Kondisinya saat ini berkebalikan dengan kondisi normal.

Dalam kondisi normal, kawasan Gunung Bromo selalu ramai, tak ubahnya ibukota Kabupaten Probolinggo. Tetapi sekarang, Gunung Bromo mati suri. Kantong parkir di kawasan Sukapura yang biasanya ramai, saat ini sepi.

Akses utama menuju Gunung Bromo pun bisa dikatakan sangat lengang. Tidak ada jeep yang parkir di pinggir jalan seperti biasanya. Sebab, jeep-jeep wisata Bromo sudah dikandangkan oleh para pemiliknya.

Kecamatan Sukapura memang bisa dikatakan hampir 80 persen penduduknya menggantungkan hidupnya dari wisata Gunung Bromo. Mulai dari kerja di hotel, membuka usaha homestay, sewa jeep, jual pernak pernik khas Bromo, buka warung hingga kegiatan usaha lainnya. Sisanya, menjadi petani di kawasan lereng Gunung Bromo. Untuk hal ini, bisa dikatakan aman, meskipun ada pengurangan penjualan karena di pasar yang dijual pun ada pengurangan, baik itu di Malang, Surabaya dan kota lainnya.

Sedangkan di sektor wisata, hampir dipastikan mati suri. Ya, para pelaku wisata di kawasan Gunung Bromo ini sedang menunggu nasib. Jika ada perpanjangan penutupan destinasi wisata, mereka harus berusaha agar bisa tetap bertahan.

Selama sepekan penutupan destinasi wisata, tidak ada aktivitas apapun. Praktis pelaku jasa wisata hanya berdiam diri di rumah. Soal pemasukan, semuanya berhenti. Pelaku usaha yang mempunya ternak atau lahan pertanian, masih bisa mendapatkan pemasukan.Tetapi jika hanya mengandalkan usaha jasa wisata, tidak bisa.

Tidak sedikit dari mereka yang banting setir, seperti menjadi buruh bangunan hingga sopir tembak antar daerah. Ya semua ini dilakukan untuk bisa menyambung hidup dan menafkahi keluarganya. “Memang tak seberapa, tapi untuk keluarga kan harus berjalan. Jadi, ya apapun dilakukan,” jelas Mursit, salah satu pelaku jasa wisata di Gunung Bromo .

Sebagian lainnya juga harus banting setir menjadi buruh tani. “Memang kalau dibandingkan saat jadi supir jeep ya (pendapatan) banyak sopir. Tetapi karena sekarang tutup, jadi apapun ya dilakukan. Pokok ada yang bisa dimakan,”  kata Asan, pelaku jasa wisata lainnya.

Di sector lain kondisinya hampir sama. Sebut saja para PKL yang biasa menjual suvenir kepada wisatawan Gunung Bromo. “Nggak ada (pekerjaan). Hanya mencari rumput, karena memang sudah nggak ada pemasukan. Untngnya, saat ramai, masih bisa nyelengi (menabung, red) buat beli sapi,” kata Herman, seorang PKL yang banting setir merumput.

Usaha skala kecil seperti sekarang ini memang menjamur di kawasan wisata Gunung Bromo seiring dengan dipilihnya Gunung Bromo menjadi 10 destinasi wisata andalan Indonesia. Perekonomian pun bisa dikatakan terbaik di Kabupaten Probolinggo.

Namun, virus corona membuyarkan segala kebijakan pendukung destinasi wisata Gunung Bromo. Wisata ditutup, ada banyak orang terkena dampaknya. Mulai dari penyedia jeep, asongan, ojek kuda dan usaha lain di kawasan wisata Gunung Bromo. Semuanya dipastikan ‘sesak nafas’ akibat wabah virus corona.

Sedangkan para pemilik hotel di kawasan Gunung Bromo harus putar otak agar ongkos produksi untuk karyawan bisa terbayar selama penutupan destinasi wisata seperti saat ini. Terlebih, untuk gaji karyawan saja dalam sebulan bisa menghabiskan Rp 60 juta. Salah satu kebijakan yang dilakukan yakni ‘merumahkan’ sementara sebagian karyawannya. “Ya itungannya 15 hari kerja. Jadi, ketika ada kebijakan penutupan destinasi, termasuk Bromo ya kita langsung meliburkan karyawan kami,” kata salah satu pemilik hotel di kawasan Sukapura, Iwan.

Hal seperti ini dilakukan oleh semua hotel di kawasan Gunung Bromo. Apalagi untuk tingkat hunian hotel atau okupansi sebelum virus corona ini juga rendah.  

Dalam kondisi wabah corona yang mulai melumpuhkan perekonomian ini, para  pelaku usaha di kawasan Gunng Bromo berharap ada kebijakan khusus untuk penundaan pembayaran angsuran.  (rul/iwy)


Bagikan Artikel