Lain-lain

Eh, Lapak Alun-Alun Kota Probolinggo Dijual


PROBOLINGGO – Lapak sisi utara alun-alun Kota Probolinggo sebagian sudah dialihkan ke orang lain dengan cara sewa. Bahkan diduga ada yang sudah diperjual-belikan. Tak tanggung-tanggung, harga jualnya sampai jutaan rupiah. Padahal, lapak itu milik Pemkot Probolinggo.

Hal tersebut diungkap Ketua Komisi II DPRD Kota Probolinggo Sibro Malisi saat hearing dengan Badan Pendapatan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Senin (9/3) lalu. Dalam kesempatan itu, Sibro menyebutkan ada salah satu lapak yang dijual ke orang lain seharga Rp 25 juta. Padahal, harga sewanya tidak jauh dari Rp 5 juta per tahun.

Politisi Partai NasDem ini menyayangkan praktek pengalih-fungsian lapak tersebut. Sibro kemudian meminta penjelasan kepada BPPKAD, apakah informasi yang didengarnya benar atau tidak. Sayangnya, Plt Kepala BPPKAD Heri Astuti enggan menjelaskan ke dewan. Alasannya, masalah lapak di alun-alun itu bukan kewenangannya, tetapi  kewenangan DKUPP (Dinas Koperasi Usaha Mikro Perdagangan dan Perindustrian).

BPPKAD menurut Heri, mengurus sewa-menyewa tanah aset berupa tanah atau lahan pertanian. “Kami tidak tahu pak. Itu yang ngurus DKUPP. Kewenangan kami sewa menyewa sawah,” ujar Heri Astuti.

Sedangkan Kepala DKUPP Gatot Wahyudi saat dikonfirmasi kemarin mengaku belum mengetahui kalau lapak milik pemkot tersebut beralih tangan, bahkan beralih fungsi. Pihaknya akan segera turun ke lapangan untuk menelusuri kebernaran informasi tersebut. “Kami sudah memerintahkan petugas kroscek ke lapangan,” ujarnya.

Menurutnya, jika informasi tersebut benar, maka pihaknya akan memanggil orang yang menyewakan lapaknya. “Akan kami panggil untuk klarifikasi. Menjual atau menyewakan bahkan mengalihfungsikan lapak itu tidak boleh,” tandasnya.

Gatot menegaskan, lapak yang dimaksud milik pemkot. Warga hanya memiliki kewenangan menempati untuk berjualan kuliner makanan dan minuman. Jika memang tidak nyaman dan tidak kerasan, harusnya memberitahu ke DKUPP. “Jangan diperjual-belikan, disewa atau dialihfungsikan seperti itu. Kan bukan hak mereka,” tambahnya.

Gatot berjanji akan menertibkan dan mengembalikan fungsi lapak seperti sedia kala. Lapak yang terlanjur disewakan, dijual atau dialihfungsikan akan dikembalikan ke orang yang namanya tercatat sebagai penghuni. “Teknis pengembaliannya nanti kita atur. Kami nanti akan meminta lapak untuk tidak dialihkan ke orang lain,” katanya.

Sementara, Mangun, salah satu pedagang mengaku pernah menyewa lapak di sisi utara alun-alun. Harga sewanya Rp 5 juta setahun. Lapaknya lalu dipakai jualan bebek dan ayam goreng. “Ya saya pernah sewa di sana Rp 5 juta ke warga Kelurahan Sukabumi. Sekarang saya pindah sewa di tempat lain. Karena lapak yang pernah saya sewa itu akan ditempati anaknya berjualan,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel