Lain-lain

Pedagang Akhirnya Tempati Pasar Kronong Baru

PROBOLINGGO – Para pedagang Pasar Kronong lega. Setelah empat tahun menempati Tempat Penampungan Sementara (TPS), mereka  akhirnya bisa menempati Pasar Kronong baru, hasil renovasi. Pasar Kronong di Kelurahan/Kecamatan Mayangan ditempati oleh para pedagang mulai Jumat-Sabtu (21-22/2) lalu.

Meski seluruh pedagang sudah pindah dari Fasilitas Parkir milik Dishub, tetapi Pasar Kronong belum diresmikan. Rencananya, Pasar Kronong baru akan diresmikan oleh Walikota pada bulan depan.

Kepala UPT Pasar pada DKUPP (Dinas Usaha Koperasi kecil, Perdagangan dan Perindustrian) Kota Probolinggo Muhammad Arifbillah mengatakan, proses pindahnya mulai Jumat hingga Sabtu lalu. Kemarin (23/2) pagi seluruh pedagang Pasar Kronong sudah berjualan.

Dijelaskan, jumlah pedagang yang pindah ada 239 orang. Sebanyak 186 pedagang menempati los, 23 menempati kios atau toko, dan 30 pedagang  berjualan di emperan pasar sisi utara.

Mereka yang berjualan di luar pasar itu pedagang yang tidak terdata. “Mereka pedagang baru, belum berjualan saat pendataan berlangsung. Pedagang tambahan,” jelas  Arifbillah.

Menurutnya, proses pemindahan hingga selesai penataan barang dagangan berlangsung lancar dan tidak ada kendala atau gangguan. Sebagai tanda rasa syukur, selain berdoa bersama sebelumnya, pedagang dan pembeli dihibur music elektone.  “Enggak ada tujuan lain, kecuali menghibur pedagang dan pembeli. Minggu ini mereka pertama menempati dan berjualan di Pasar Kronong baru,” katanya.

 Arif menyebutkan, ratusan pedagang berjualan aneka jenis barang. “Barang yang dijual, sama dengan sebelumnya. Tetapi kondisi pasar lebih bersih, lebih luas dan higienis dibanding sebelumnya,” katanya.

Tentang kabar ada penarikan dana ke seluruh pedagang untuk biaya pembuatan pagar, Arief membenarkan. Hanya, pihaknya tidak ikut campur. Itu murni inisiatif dan hasil kesepakatan pedagang.

Bahkan sumbangan yang awalnya disepakati sebesar Rp 50 ribu setiap pedagang, turun menjadi Rp 25 ribu. Awalnya Rp 50 ribu. Atas saran kami, turun menjadi Rp 25 ribu. Biar tidak memberatkan. Terbukti, mereka sepakat,” jelasnya.

Hasil dari iuran atau tarikan dipegang dan dikelola paguyuban pedagang. Dana itu akan digunakan untuk  memasang pagar, demi keamanan. Sebab, Pasar Kronong belum ada pagarnya,  terutama di timur dan utara. “Seng bekas pagar tempat penampungan sementara akan dipakai pagar. Tentunya dipilih yang masih layak pakai. Kekurangannya beli seng baru. Dana itu juga untuk biaya pemasangan pagar seng keliling,” beber Arif.

Pagar seng digunakan untuk sementara waktu, sambil menunggu pagar tembok yang akan dibangun pemkot. Arif berterus terang, pembangunan pagar pasar menjadi tanggungan pemkot. Namun, pedagang berinisiatif memagar seng terlebih dahulu demi keamanan. “Tahun ini pagar pasar akan dibangun pemkot. Setelah jadi, pagar seng akan dicopot atau dilepas,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan