Lain-lain

Catat 440 Kasus DBD di Probolinggo, 5 Meninggal Dunia


KRAKSAAN – Kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Probolinggo, masih tinggi. Bahkan, angka kasus DBD pada 2019 kemarin, naik melejit dibanding dibanding tahun sebelumnya.

Berdasar data Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, pada tahun 2019, ada 440 kasus DBD dan 5 orang diantaranya meninggal dunia (MD). angka itu jauh lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang hanya ada 80 kasus DBD dan 4 orang meninggal.

Kondisi itu menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo, terutama Dinas Kesehatan (Dinkes). Apalagi, saat ini musim hujan, sehingga rawan kasus DBD.

Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto mengatakan musim hujan seperti saat ini sangat rawan terjangkit penyakit demam berdarah (DB), khususnya anak-anak. Di Kabupaten Probolinggo sendiri, selama awal tahun ini sudah tercatat ada puluhan kasus DBD yang menyerang anak-anak. Syukur saja tidak ada kasus DB/DBD yang sampai menelan korban jiwa.

Data yang dihimpun kemarin menyebutkan, kasus DB selama tiga tahun terakhir, ternyata masih tinggi. Meskipun, di tahun 2017 kasus DB mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Dimana, tercatat total ada 241 kasus BD selama tahun 2017 kemarin dan sebanyak  5 kasus diantaranya berakhir pada kematian.

Sama dengan tahun sebelumnya, kasus DBD tertinggi ada di wilayah Paiton.  Sedangkan, wilayah yang bebas dari kasus DBD tetap di dua wilayah, yaitu Kecamatan Sumber dan Sukapura. ”Hampir seluruh kasus demam berdarah itu itu diderita anak usia 0 sampai 14 tahun,” jelas dokter Anang.

Anang menjelaskan, masyarakat tetap harus waspada terhadap kasus DB. Mengingat, bulan Januari hingga Februari diperkirakan meruakan puncak musim hujan terjadi. Sehingga, sangat rentan terjadi kasus DBD. “Masyarakat tetap harus waspada dan mencegah terjadinya virus DB,” imbaunya.

Dokter Anang mengatakan, penyakit DBD itu akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti, jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue atau penyebab demam berdarah. Bahkan, saat terlambat dalam penanganan, atau terlambat dibawa ke rumah sakit, bisa berimbas pada kasus kematian.

”Sesuai petunjuk Ibu Bupati, kami sudah menggalakkan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, desa sampai masyarakat lagnsung. Termasuk pembentukan Gerakan Memberantas Sarang Nyamuk DBD,” tandasnya. (rul/iwy)


Bagikan Artikel