Lain-lain

Zulmi Noor Hasani Ajak Petani Kopi Berdaulat


KRAKSAAN – Acara Festival Kampung Kopi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pengusaha Kopi Kabupaten Probolinggo di alun-alun kota Kraksaan, Sabtu (25/1) malam berlangsung meriah. Ribuan warga menikmati kopi, seraya bersantai diiringi musik yang dibawakan oleh beberapa band lokal.

Acara tersebut juga dihadiri oleh Camat Kraksaan Muhammad Ridwan dan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo Dwijoko Nurjayadi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Kopi Kabupaten Probolinggo H. Zulmi Noor Hasani mengatakan, acara tersebut digelar dalam rangka memperingati hari jadi Kota Kraksaan yang ke-10. Sekaligus memperingati hari ulang tahun H. Hasan Aminuddin yang merupakan mantan Bupati Probolinggo 2 periode (2003-2013), yang sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IV DPR RI.

Dalam sambutannya Zulmi menyampaikan, produk kopi Probolinggo sudah mempunyai nama di level Nasional. Terbukti dalam beberapa kali pagelaran festival kopi nasional, kopi Probolinggo banyak diminati oleh pecinta kopi.

“Alhamdulillah Kabupaten Probolinggo ini dianugerahi berbagai macam jenis kopi. Dan saya bisa bilang kopi Probolinggo sudah menjadi perhitungan di Nasional. Seperti kopi di daerah Krucil, Tiris, Sukapura, Lumbang, dan Pakuniran,” katanya.

Ia mengungkapkan, kualitas kopi yang baik, membuat beberapa daerah luar sengaja mengulak kopi dari Probolinggo untuk di-branding di daerahnya masing-masing. Hal itu menurutnya sangat tidak fair, sebab hal itu sama sekali tidak menguntungkan bagi Kabupaten Probolinggo.

“Banyak produk kopi dari kita yang dibawa ke luar dan di-branding. Kita harus menjadi tuan rumah di daerah kita sendiri. Kita harus berdaulat,” tegasnya.

Ia juga mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pengawalan dalam mem-branding kopi lokal.

“Kami akan terus mengawal dan mendukung semua kegiatan kopi, baik dari hulu ke hilir, petani hingga penjual, baik dari kafe-kafe hingga yang ada di pinggir jalan,” paparnya.

Zulmi berharap, ke depan para petani kopi bukan hanya mampu menggunting kopi dan menjualnya, namun juga mampu menggiling sendiri hasil panen kopinya.

“Kita harus kembali ke masa lalu, dan ini bukan mas lalu jelek. Sebenarnya kebiasaan masa lalu ini baik sekali, di mana biasanya masyarakat itu menggiling kopinya sendiri. Itu merupakan salah satu cara untuk memajukan petani-petani kopi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Disperindag setempat Dwijoko Nurjayadi mengatakan, pihaknya akan mendukung penuh program yang akan dilakukan oleh Asosiasi Pengusaha Kopi setempat. Sebab, menurutnya sangat penting petani mempunyai kedaulatan akan kopinya.

“Kami akan mendukung program-program dari asosiasi pengusaha kopi ini. Sangat penting untuk berdikari dalam perekonomian,” kata Dwijoko. (ay/awi)


Bagikan Artikel