Lain-lain

Korban Masih Keluhkan Bantuan Bencana Tiris

TIRIS – Masih ada korban bencana banjir dan tanah longsor di Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo yang mengeluhkan distribusi bantuan. Keluhan ini terutama disampaikan warga Dusun Lawang Kedaton. Mereka merasa belum mendapat bantuan yang memadai.

Satu keluarga di Desa Andungbiru ini menerima bantuan berupa uang tunai dan uang receh dari donatur. Meski cukup banyak bantuan mengalir, namun ada beberapa korban yang mengeluhkan distribusi bantuan. (Beny Dwi/Koran Pantura)

Adalah Lazim (45), salah seorang warga Dusun Lawang Kedaton yang mengeluhkan masalah bantuan. Menurutnya, bantuan yang dia terima belum sesuai harapan. “Kalau di Dusun Kedaton, bantuan lebih dari cukup. Bantuan makanan, minuman, maupun pakaian. Sedangkan di daerah sini bantuan masih sangat kurang. Itupun beberapa kali saja setelah bencana,” kata Lazim kepada Koran Pantura,  kemarin (19/12).

Hal senada disampaikan Desi (45), juga warga Dusun Lawang Kedatong. Sampai kemarin Desi mengaku masih kekurangan bahan makanan. Desi bahkan masih harus mengandalkan bantuan dari saudaranya.

Desi kemudian membandingkan bantuan yang diterima warga Dusun Kedaton. ”Bantuan ke Dusun Kedaton kabarnya sudah banyak. Tetapi kenapa di Dusun Lawang Kedaton bantuannya tidak masimal. Ini bukan saya saja yang mengeluh. Semua tetangga di sekitar merasakan hal yang sama,” ujar Desi.

Beda lagi dengan Hasanah (51). Warga yang menjadi korban bencana longsor ini mengaku hanya pernah mendapat bantuan dari posko penyalur bantuan Airlangga Adventure. Selain makanan dan pakaian, uang santunan pun ia terima.

Sedangkan bantuan dari pemerintah desa, Hasanah mengaku belum dapat. “Saya hanya dapat bantuan dari Airlangga Adventure saja. Kalau dari desa, sampai sekarang masih belum dapat bantuan,” katanya.

Menurut Agus Subianto selaku pengelola Airlangga Adventure, selain membuka posko darurat dan dapur umum, sejumlah bantuan juga disalurkan di tempatnya. “Alhamdulillah untuk penyaluran bantuan di sini warga sudah merasakannya. Bantuan yang kami terima dari berbagai donatur, seluruhnya disalurkan langsung kepada korban bencana,” katanya.

Agus mengatakan, bantuan yang ia terima juga disalurkan ke Dusun Kedaton. “Saat kami menyalurkan bantuan ke Dusun Kedaton, banyak masyarakat yang mengeluhkan kurangnya bantuan. Padahal penyaluran bantuan dari desa sudah maksimal. Lantas ke mana larinya bantuan itu? Sedangkan yang dipakai mengangkut bantuan itu menggunakan sepeda motor. Kalau menggunakan mobil kan tidak bisa,” kata Agus.

Untuk itu, Agus berpendapat bahwa dalam proses penyaluran bantuan sembako dan lainnya perlu pengawalan pihak terkait. Itu agar bantuan betul-betul sampai tepat sasaran.

“Dan alhamdulillah penyaluran untuk daerah sini sudah mencukupi, meski tidak maksimal. Kasihan para korban kalau bantuan tersebut tidak tepat sasaran. Sedangkan di sana ada 10 rumah terparah akibat longsor, termasuk salah satunya keluarga korban yang anaknya meninggal tertimpa longsor,” papar Agus.

Sementara, Kades Andung Biru Essam (50) menegaskan, memang bantuan tidak bisa disamakan untuk korban longsor dan korban bencana banjir. Kecuali kondisi rumahnya betul-betul rusak parah akibat longsor.

Menurut Kades, penyaluran sembako maupun lainnya difokuskan kepada warga yang terdampak banjir. Tetapi itu tidak berarti mengesampingkan korban longsor.  “Penyaluran bantuan dilihat dari parah tidaknya kondisi mereka. Seperti di Dusun Kedaton, hampir rata-rata rumah sekaligus isinya habis diterjang banjir. Jadi penanganan bantuannya sebagian besar di salurkan di sana,” terang Kades.

Ia menambahkan, di Dusun Lawang Kedaton yang terdampak longsor terparah ada 10 rumah. “Nanti bantuan fokus di sana juga. Yang terdampak dan hanya rusak sedikit, juga tetap ada (bantuan). Tetapi, tidak sebanyak bantuan bagi yang kondisi rumahnya rusak berat,” tegas Kades. (ben/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan