Lain-lain

Lahan Tercover Asuransi Menyusut


PROBOLINGGO – Keinginan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertaninan (DKPP) Kabupaten Probolinggo untuk memperluas cakupan asuransi usaha tanah padi (AUTP) tahun ini, sepertinya sulit terwujud. Sebab, hingga akhir Oktober lalu tercatat hanya 40,45 hektar lahan tanam padi di 8 desa yang diikutkan asuransi oleh petani.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kabid Pelaksana Penyuluhan dan Bina Usaha Tani pada DKPP Kabupaten Probolinggo Yahyadi. Dia menyebut, sebagai perbandingan pada tahun 2018 lalu, DKPP mencatat luasan lahan yang tercover asuransi yakni seluas 71,37 hektar lahan tanam padi. Namun angka tersebut kemudian susut 31,92 hektar menjadi 40,45 hektar lahan tanam padi pada tahun ini.

“Adanya penurunan ini karena kesadaran petani mulai berkurang. Karena mereka menganggap di musim tanam ini, tanaman padi mereka sudah bagus, sehingga tak perlu lagi diasuransikan,”ungkapnya, Senin (4/11) kemarin.

Dijelaskannya, saat ini hanya ada 8 desa yang petaninya masih memanfaatkan program asuransi dari pemerintah pusat itu. Kedelapan desa itu yakni Desa Duren, Desa Nogosaren, Desa Prasi, Desa Wangkal di Kecamatan Gading; Desa/Kecamatan Gending; Desa Asembagus Kota Kraksaan; kemudian Desa Pajarakan Kulon dan Desa Sukokerto di Kecamatan Pajarakan.

“Padahal seiring datangnya musim penghujan, risiko gagal panen akibat bencana alam berupa banjir dan serangan hama cukup tinggi. Namun hal ini disadari atau tidak, belum mampu membuat petani mengasuransikan kembali tanaman padinya itu,” jelasnya.

Padahal kata Yahyadi, premi dari asuransi AUTP saat ini hanya senilai 3 persen. Jika dihitung berdasarkan besaran biaya input usaha tani padi sebesar Rp 6 juta per hektar per musim tanam. Premi yang dikenakan hanya sebesar Rp 180 ribu per hektar per musim tanam. “Nominal tersebut sebenarnya kecil jika dibanding dengan risiko yang dihadapi. Tapi sekali lagi, perlu penguatan untuk menyadarkan petani karena pentingnya program ini,” tegasnya. (tm/awi)


Bagikan Artikel