Lain-lain

Tasbih Hasan Aminuddin untuk Mualaf asal Sukapura Probolinggo


PROBOLINGGOSinta Arni Pramita telah menjadi seorang muslimah setelah melafalkan dua kalimat Syahadat di Masjid Bin Aminuddin di Desa Rangkang, Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jum’at (25/10) siang. Jalan panjang dalam babak baru kehidupan gadis 23 tahun asal Desa Jetak, Kecamatan Sukapura ini telah dimulai. Sebuah tasbih akan selalu menemaninya.

 

***

 

Detik demi detik terus berlalu meninggalkan pukul 12.15. Pada Jum’at siang itu, detak jantung Sinta rasa-rasanya lebih cepat dari biasanya. Suatu kewajaran karena ia akan segera meninggalkan masa lalu dan memasuki alam barunya. Islam.

 

Di sekelilingnya, ratusan mata jamaah Jum’at mengarah pada sosok Sinta yang ditemani temannya, Asti. Wajah mereka berbinar begitu pengurus takmir Masjid Bin Aminuddin mengumumkan akan ada pembacaan Syahadat oleh Sinta. Tanda ia akan segera menjadi muslimah. Mereka menunggu itu.

 

Tangan Sinta gemetar ketika menerima mikropon dari tangan pengurus takmir. Ia diberi waktu untuk menyampaikan sepatah-dua kata. Entah apa lagi yang ia rasakan selain gugup.

 

“Saya Sinta. Saya berniat memeluk agama Islam,” ungkapnya setelah menyampaikan salam. Suaranya bergetar. Nyata sekali.

 

Jamaah menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut Sinta. Namun hanya kalimat itu. Tak lebih. Lidahnya mungkin telah kelu. Rasanya ia gugup.

 

Pengasuh Pondok Pesantren HATI H. Hasan Aminuddin sigap. Hasan sadar bukan waktu yang tepat bagi Sinta untuk menyampaikan perasaannya. Melalui mikropon pula. Maka Hasan meminta Sinta menyerahkan Mikropon itu kepada Hasan. Sinta pun mengakhiri sesinya dengan mengucapkan salam.

 

“Kita telah sama-sama mendengar bahwa ananda Sinta Arni Pramita mengungkapkan niatnya dari lubuk hati terdalam. Ananda Sinta tadi mengungkapkan bahwa dia Ikhlas menjadi seorang muslimah. Marilah kita bersama-sama menjadi saksi dari peristiwa sakral ini,” ungkap Hasan.

 

“…… menyatakan memeluk agama Islam dengan kesadaran sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak manapun dengan mengucapkan dua kalimat Syahadat……,” kata Sinta. Tangan kirinya menyeka sedikit air matanya yang mengalir.

 

Jamaah mengumandangkan takbir. Mereka juga memberi aplaus. Lalu disambung dengan doa yang dipimpin seorang ulama yang turut hadir di masjid. Begitu selesai, Sinta lantas menandatangani surat pernyataan tersebut. Lalu, berakhirlah seremoni itu. Para jamaah bubar. Beberapa saja yang masih bertahan. Termasuk beberapa pihak terkait yang masih duduk di saf depan masjid.

 

“Saya kok tidak tahu ya kalau sekarang akan ada acara ini. Tahunya ya baru sekarang ini,” kata Hasan kepada orang-orang di sekitarnya.

 

Nurul Yakin, ketua takmir masjid hanya terdiam. Namun bibirnya terlihat tersenyum kecut. Tampaknya orang ini memang sengaja mengatur agar Hasan Aminuddin tidak tahu akan agenda tersebut dan merasa surprise. Beberapa orang lain yang terlibat dalam obrolan itu juga bertingkah serupa. Rupanya mereka kongkalikong.

 

Obrolan kembali mengalir. Hasan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Sinta dan Asti yang mendampingi Sinta. Mulai dari nama, alamat, pekerjaan, ihwal pertemuan keduanya, dan banyak hal lain yang memang tidak ia ketahui.

 

“Ooooo, jadi ini teman kerja ya. Tadi sebelum acara dimulai, saya kira ananda ini orang Tiris karena temannya ini orang Tiris,” kata suami dari Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari ini.

 

 

“Ini, ananda Sinta. Tasbih dari saya. Tasbih ini fungsinya untuk berdzikir. Ini dipakai. Insya Allah akan diberi kemudahan oleh Allah SWT,” kata Hasan sambil menyerahkan sebuah tasbih putih 33 biji kepada Sinta.

 

Sinta menerima tasbih itu dengan sikap takdim. “Amin. Insya Allah,” kata Sinta dengan penuh keyakinan. (eem)


Bagikan Artikel