Lain-lain

Harga Tembakau Jeblok

KREJENGAN – Harga jual  tembakau Voor Oogst (VO) Paiton di Kabupaten Probolinggo saat ini terbilang rendah. Pada periode yang sama pada tahun sebelumnya, harga minimalnya Rp 30 ribu. Namun saat ini anjlok hanya kisaran Rp 23 ribu – Rp 26 ribu per kilogram.

Sucipto (40), petani tembakau asal Dusun Karangasem, Desa Kamal Kuning, Kecamatan Krejengan mengatakan, harga itu baru saja ia dapat dari tawaran pedagang kemarin.

“Ya, harganya Rp 25 ribu – Rp 26 ribu per kilogram, bahkan ada tembakau yang dihargai hanya Rp 23 ribu per kilogram,” kata Sucipto kepada Koran Pantura, Rabu (9/10).

Menurutnya, harga ini sangat murah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang di atas Rp 30 ribu per kilogram. Bahkan mencapai Rp 41 ribu per kilogram untuk kualitas daun dada dan leher. Ia menyebut, tahun kemarin tembakau termurah dihargai Rp 28 ribu per kilogram.

“Itu pun daun bawah. Sekarang ini yang dirajang daun leher yang kualitasnya lebih bagus daripada daun bawah. Tapi harganya malah lebih murah,” keluh petani dengan lahan 8.000 meter persegi ini.

Dia menduga ada permainan dari gudang. Pasalnya, kualitas tembakau tahun ini cukup bagus. Namun, pemasarannya malah justru sulit. Berbeda dengan tahun 2010 lalu yang sering hujan saat musim panen tembakau.

“Waktu musim hujan itu harganya cuma Rp 1.500 per kilogram, itu wajar karena kualitasnya gak bagus. Tapi sekarang ini kualitas bagus, tapi harganya murah,” terangnya.

Sahri (32), petani tembakau lainnya juga mengatakan hal yang sama. Dia menggeluti usaha pertanian tembakau sejak 3 tahun lalu. “Sejak 2 tahun sebelumnya enak ini harganya, Mas. Pasti di atas Rp 30 ribu. Baru kali ini harganya yang murah,” ungkap warga Dusun Kuripan, Desa Jatiurip, Kecamatan Krejengan ini.

Pekan lalu, tembakau Sahri dihargai hanya Rp 26 ribu per kilogram. Kali ini ia menuntaskan produksi tembakau pada sisa daun di batang tembakau. “Ini harganya belum tahu. Katanya turun lagi,” ucapnya.

Usaha tembakaunya ini adalah usaha musiman. Pekerjaan hariannya di luar musim tembakau adalah sebagai penjual ikan di pasar Kalibuntu. “Kalau musim tembakau selesai, saya kerja ikan lagi,” tuturnya.

Kini, Sahri mengakui usaha tembakaunya mengalami penurunan. Hal itu terlihat dari kebingungannya mencari pemasaran. Dua musim sebelumnya, tembakau Sahri selalu laku terjual dengan harga tinggi.

“Jangankan yang sudah rajangan, masih berupa daun saja sudah ada pedagang yang datang kasih harga. Sekarang, tembakau sudah kering, pedagang gak ada yang datang,” bebernya.

Melihat kondisi ini, Sahri pun menjemput bola dan seolah membalikkan keadaan sebelumnya. Dia yang kini mencari pedagang agar semua tembakaunya laku terjual. “Mau gimana lagi. Sekarang saya yang mendatangi pedagang, minta supaya tembakau saya dibeli. Kalau gak gitu, ya gak laku, malah rugi saya,” paparnya. (awi/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan