Lain-lain

Perbaikan Jalan Dana Swadaya, Pakai Batu Sisa

SUMBER – Warga Desa Gemito di Kecamatan Sumber Kabupaten Probolinggo sadar benar tentang pentingnya pendidikan untuk putra-putri mereka. Demi pendidikan, warga rela bekerja bakti memperbaiki akses jalan agar putra-putri mereka tidak kesulitan menjangkau SMPN 1 Sumber.

Akses jalan di Desa Gemito memang belum bisa dikatakan baik. Butuh kendaraan dengan spesifikasi khusus untuk melintasi jalanan Desa Gemito. Masalah  jalan ini menjadi prioritas pembangunan di Desa Gemito sejak beberapa tahun terakhir. Sebab, akses jalan yang tidak baik diyakini bikin lamban pergerakan ekonomi, kesehatan,  dan pendidikan.

Pemerintah Desa Gemito sudah membangun jalan desa sepanjang 8 kilometer dalam beberapa tahun terakhir. Namun, upaya tersebut masih belum sepenuhnya tuntas mengentas masalah jalan. Termasuk pembangunan jalan paving maupun aspal yang telah dilakukan oleh Pemkab Probolinggo. 

Namun, dalam hal pendidikaan, para siswa SMPN 1 Sumber yang berasal dari Desa Gemito masih masih harus melintasi jalan dalam kondisi kurang layak. Untuk menjangkau SMPN 1 Sumber, anak-anak dari Desa Gemito memiliki dua akses jalan.

Akses pertama ialah melalui Desa Tukul, kemudian tembus jalan dekat kecamatan dan kemudian menuju SMPN 1 Sumber yang berada di dekat Pasar Tempuran. Sedangkan akses kedua yakni potong kompas dengan tembus jalur dari barat SMPN I Sumber.Jalur ini berada di Dusun Kelapa Desa Gemito.

Kepala Desa Gemito Agung tidak ingin warganya kesulitan untuk mendapatkan akses menuju lembaga pendidikan. Terlebih di musim hujan seperti saat ini. “Karena aksesnya seperti itu, makanya tidak jarang mereka ini terjatuh,” kata Kades Gemito Agung.

Karena kondisi itu pula, akhirnya warga Desa Gemito secara swadaya membangun jalan menuju SMPN 1 Sumber. Ada dana 8 juta dari swadaya masyarakat untuk membangun jalan akses siswa tersebut.  Rencananya jalan yang akan dibangun tersebut berukurang setengah meter dan panjang 300 meter. “Dengan dana itu tentu nggak cukup untuk beli semua material. Semen saja butuh 150 sak,” kata Kades Agung. 

Lalu sebagai solusinya, masyarakat berinisiatif memilah batu-batu sisa material jalan kabupaten yang rusak. Tepatnya jalan yang berada di tengah hutan, masuk Desa Tukul.

“Akhirnya kami bersihkan, yang bagus dipinggirkan dari  jalan. Batu-batu itulah lah yang menjadi material untuk membangun jalan menuju lembaga pendidikan di Dusun Kelapa. Ini murni kepedulian kami kepada generasi penerus untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik,” jelas Kades Agung.

Bagi Kades Agung, pembangunan jalan ini tidak akan berhasil tanpa dukungan penuh dari masyarakatnya. Terlebih, tidak ada sokongan dana lain dari mananpun. “Tanpa masyarakat Gemito, tidak bisa. Jalan menuju sekolah yang paling sulit dilalui itu jaraknya 300 meter. Kalau melintas saat hujan, resikonya jatuh,” jelasnya.

Kades Agung mengaku sempat ditegur camat, terkait pembangunan jalan tersebut. “Memang sempat ditegur. Tetapi, tetap kami kerjakan. Jalan itu memang sangat dibutuhkan masyarakat. Saya hanya butuk 50 cm saja untuk jalan pendidikan. Perhutani setengah meter kok dilarang, mandornya saja ikut lewat,” kata Agung.

Dengan tekad itu, Kades Agung bareng warga meneruskan pembuatan jalan dengan modal awal hanya Rp 8 juta itu. “Ini bagian dari komitmen kami untuk memajukan pendidikan. Dulu itu tidak ada anak sekolah sampai SMP dan SMA, karena akses jalannya yang sulit. Tetapi sekarang alhamdulillah ada peningkatan. Karena itu, kami berupaya agar jalan yang mereka tempuh kondisinya baik. Mereka itu generasi penerus bangsa ini,” ujarnya. (rul/iwy)

Warga bekerja bakti memperbaiki akses jalan yang biasa dilalui oleh pelajar dari Desa Gemito menuju SMPN 1 Sumber ini. (Choirul Umam Masduqi/Koran Pantura)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan