Lain-lain

Terancam Gulung Tikar, Ratusan Buruh Rokok Diliburkan


PROBOLINGGO – Tunggakan pajak puluhan hingga ratusan juta itu berdampak pada kegiatan produksi rokok lokal di Kabupaten Probolinggo. Ada pengusaha yang meliburkan ratusan karyawannya, bahkan ada yang sampai menutup gudang.

Ismail, pengusaha rokok adalah salah satu yang terdampak. Dia meliburkan ratusan buruh produksi rokoknya sejak 3 hari yang lalu. “Total ada 150 orang tidak bekerja sejak 3 hari yang lalu,” katanya.

Keputusan itu diambil karena pihaknya tidak bisa mengakses pita cukai rokok sebelum beritikad membayar tunggakan pajak sebesar Rp 91 juta yang disebutkan dilakukan kurun waktu 2015-2016 lalu. “Banyak teman-teman yang bilang, ‘sudah nyicil saja’. Loh, ini bukan perkara nyicil atau tidak nyicil. Saya menyuarakan kebenaran,” sergahnya, Kamis (19/9).

Akibat tidak bisa diaksesnya pembelian pita cukai itu, ribuan pack rokok yang kadung diproduksinya belum bisa dipasarkan. Kapasitas produksinya sebanyak 12 ribu pack rokok dalam sebulan. “Kalau produk gak bisa dijual, buat apa produksi yang baru. Ya sudah, saya liburkan para karyawan. Kalau mau demo, ya sana biar demo ke KPP Pratama,” cetus Ismail.

Ketua Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) Kabupaten Probolinggo ini pun menegaskan masih akan terus berkomunikasi dengan KPP Pratama. Rencananya, akan ada pertemuan beberapa waktu ke depan. “Saya mau bicara lebih keras nanti. Ini bukan hanya menyangkut perusahaan saya, tetapi perusahaan lainnya,” tegasnya.

Ismail bilang, semakin lama aturan yang dibuat pemerintah semakin menindas rakyat kecil. Dia menyebut, jumlah Industri Kecil dan Menengah (IKM) rokok pada tahun 2000 di Kabupaten Probolinggo sebanyak 143 unit. Bahkan di Desa Krampilan, Kecamatan Besuk saja ada 6 IKM rokok. “Itu belum desa sebelah, seperti di Gebangan, Matekan dan Alaskandang. Dulu IKM rokok berjaya,” katanya.

Kemudian, lanjut Ismail, setelah melalui pembinaan tentang perizininan, jumlahnya semakin menurun. Apalagi setelah berubah nama menjadi Perusahaan Rokok (PR) dan bersaing dengan PR skala Nasional seperti PT. Gudang Garam dan PT. Sampoerna, jumlahnya semakin menurun drastis.

“Setelah dibina, disuruh izin ini, izin itu, bayar pajak ini, pajak itu, akhirnya gulung tikar. Sekarang saja tinggal 13 PR. Kalau tetap nggak ada solusi, bisa jadi belasan PR ini gulung tikar beberapa tahun lagi,” keluhnya.

Pak Kus, pengusaha rokok lainnya mengakui hal yang sama. Kendati pihaknya tetap produksi rokok dengan jumlah pita cukai yang masih tersisa. “Sempat nggak bayar, pita cukai gak bisa diakses lagi, akhirnya bayar bisa beli lagi,” ucapnya.

Warga Desa/Kecamatan Krejengan ini mengaku masih beruntung dibandingkan teman sesama pengusaha rokok lainnya. Pihaknya memiliki rekan pengusha rokok di Desa Sumurdalam, Kecamatan Besuk.

“Dia dulu punya gudang 2, sekarang tinggal 1 yang produksi. Sedangkan satunya ditutup karena nggak mampu mengatasi biaya produksi dan penerapan pajak itu,” papar Kus. (awi/iwy)


Bagikan Artikel