Lain-lain

Marak Pencurian Porang di Tiris

TIRIS – Di kawasan pegunungan, sasaran empuk para pelaku pencurian bukan hanya hewan, tetapi juga hasil perkebunan. Salah satu komoditas perkebunan yang rawan dicuri yakni porang atau lorkong, yaitu tanaman umbi yang kini sedang naik daun.

Ludianto (34), warga Dusun Krajan, Desa Andungsari, Kecamatan Tiris mengatakan, kerawanan pencurian porang itu terjadi sejak akhir tahun lalu. Kian hari, pencurian porang kian sering terjadi. “Terakhir 3 hari lalu, porang saya dicuri, sekitar 400 pohon,” kata Ludianto kepada Koran Pantura, Senin (16/9) lalu.

Menurutnya, setiap pohon porang bisa panen perdana pada usia minimal 2 tahun dengan berat umbi sekitar 2-3 kilogram. Sedangkan ratusan porang miliknya yang dicuri berumur lebih dari 3 tahun. “Satu pohon bisa memiliki umbi 4 kilogram. Harga jual porang sekarang per kilogram antara Rp 3.200 – Rp 3.500 per kilogram. Tinggal kalikan saja kerugiannya,” ucapnya.

Pria yang juga perangkat desa setempat ini menerangkan, porang adalah tumpang sari dari tanaman kopi. Lahannya berada jauh dari pemukiman warga, sehingga sangat minim pengawasan.

“Panen porang juga mudah dan cepat. Ini bukan hanya terjadi pada saya saja. Sejak akhir tahun lalu sudah ada lebih dari 15 orang yang menjadi korban pencurian. Di dusun sini ada 6 warga,” beber Ludianto.

Komoditas porang memang saat ini cukup menjanjikan di pasaran. Beberapa tahun lalu harganya di kisaran Rp 2.500 per kilogram. Namun kini kisarannya Rp 3.200 – Rp 3.500 per kilogram. “Bahkan pernah sampai harganya Rp 4 ribu per kilogram,” sebutnya.

Ia menambahkan, biaya produksi budidaya porang juga relatif murah. Bibit porang biasanya didapat dari biji porang yang jatuh dari pohon. Otomatis biji itu akan tumbuh menjadi tunas. “Tugas petani memindahkannya saja dan mengatur jarak tanam. Idealnya jarak 1 meter. Tidak ada pemupukan, yang ada hanya penyiangan,” katanya.

Umbi porang tidak sama dengan ketela pohon. Di mana tidak ada masa paling lambat panen. Pada ketela pohon, jika lebih dari setahun umbi tidak dipanen, maka kualitas umbi akan rusak. Sedangkan porang, minimal panen perdana pada usia 2 tahun.

“Kalau saat usia 2 tahun gak mau dijual, ya gak usah dipanen. Karena semakin lama gak dipanen, umbi makin besar, makin berat dan kualitasnya makin bagus. Tapi punya saya setelah bagus, malah dipanen orang,” keluhnya. (awi/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan