Lain-lain

3 Tahun Depresi, Warga Pedagangan Tiris Bunuh Diri


TIRIS – Miris, Hari Susilo (31) warga Desa Pedagangan, Kecamatan Tiris menutup usianya dengan cara tragis. Pria yang berprofesi sebagai buruh tani itu, bunuh diri di kamar mandi rumahnya usai pulang memancing, pada Minggu (15/9) malam. Diduga akibat ia telah mengalami depresi sejak tiga tahun terakhir.

Informasi yang dihimpun Koran Pantura, kejadian itu bermula saat korban pulang dari memancing di sebuah kali dekat rumahnya. Korban mancing sejak pagi hingga sore hari.

Kemudian, Hari Susilo pun pulang ke rumah dan langsung beranjak ke kamar mandi. Sebelum mandi, korban sempat pamit pada istrinya, Agustina (28).

Selang setengah jam lebih, korban tak kunjung keluar dari kamar mandi. Itu membuat istrinya penasaran dan menyusul korban masuk ke kamar mandi. Tak disangka, Agustina menemukan suaminya telah tergantung dengan leher terikat seutas tali mencekik lehernya.

Spontan, Agustina berteriak minta tolong. Tak lama, datang Sunarmi Bibi korban, dan disusul Sapandi tetangga korban.

Mereka membantu Agustina menurunkan tubuh korban dan memindahkannya ke ruang tengah. Sempat, warga yang menolong korban mencoba memompa dada korban untuk membuat pernafasan. Sayangnya, korban tak bisa diselamatkan.

“Nggak nyangka, siangnya korban itu sempat mancing di kali dekat sini. Tiba-tiba pulangnya sudah begini. Warga sekitar juga kaget dengan kabar itu,” jelas Karim, warga setempat.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Probolinggo AKP Riyanto menyampaikan beberapa hal. Kejadian itu murni gantung diri. Tidak ada indikasi tindak kriminalitas pembunuhan atau lainnya.

Sebab menurutnya, tidak ditemukan bekas senjata tajam atau benturan benda keras pada tubuh korban. “Hanya bekas ikatan tali di bagian leher korban,” kata Kasat.

Dia menyampaikan, kejadian kendatnya buruh tani itu, disebabkan derita depresi yang dialami korban. Depresi itu sudah didera korban sejak tahun 2016 lalu.

“Korban pernah ada masalah, akhirnya depresi sejak tiga tahun terakhir hingga korban tutup usia,” ujar Mantan Kasat Reskrim Polres Situbondo itu.

Setelah kejadian itu, kata Perwira asal Pasuruan itu, pihak keluarga korban tidak berkenan jasad korban dilakukan otopsi. Mereka menerima kejadian itu sebagai musibah bersama dan tidak akan menuntut apapun di kemudian hari.

“Sikap keluarga korban itu dibuktikan dengan tanda tangan bermaterai,” jelas Riyanto. (yek/ra)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan