Lain-lain

Sepi Penumpang, Angkutan Umum Angkut Sayur dan Material

DI KOTA, angkutan umum konvensional terus-terusan bersitegang dengan angkutan umum berbasis online. Tetapi iklim persaingan seperti itu belum sampai merasuk ke jalur atau rute desa-desa. Angkutan umum di desa-desa disebutkan malah “bersaing” dengan kondisi jalan mulus. Lho?

 Pagi itu sejumlah mobil Elf atau Byson tampak parkir berjajar di sekitar Pasar Bantaran, Kabupaten Probolinggo. Mobil-mobil itu merupakan mobil penumpang umum (MPU) atau mobil angkutan umum antar desa dari Kecamatan Bantaran sampai Kecamatan Sumber.

Saat itu mobil tersebut diparkir di area Pasar Bantaran demi menunggu penumpang. Namun, meski bodinya besar dan sanggup menampung banyak penumpang, mobil-mobil angkutan umum antar desa itu sekarang lebih sering tidak terisi.

Hal itu diakui Rohim, seorang pemilik mobil Byson yang dijadikan angkutan umum rute Bantaran – Sumber. Menurutnya, jumlah penumpangnya setiap hari tak menentu.

Bahkan ia menyebut jumlah penumpang terbanyaknya cuma lima orang. “Sehari paling banyak ya lima orang. Dua di depan, tiga di belakang,” kata pria asal Desa Karanganyar, Kecamatan Bantaran itu.

Ia menyebutkan bahwa kondisi sepinya penumpang ini terjadi sejak tiga tahun terakhir. Tepatnya sejak jalan penghubung kecamatan Kuripan dengan Kecamatan Sumber dibangun dengan anggaran lebih dari Rp 20 miliar.

Berkat pembangunan itu, kondisi jalan jadi mulus. Nah, jalan mulus menurut Rohim membuat penumpangnya jadi sepi. “Ya jalannya jadi bagus, malah sepi mas,” katanya.

Rohim berteori, jalan mulus membuat warga di Kecamatan Sumber dan sekitarnya memilih menggunakan kendaraan pribadi, baik itu sepeda motor maupun mobil. Sebab, jalan mulus membuat warga jadi tidak khawatir menggunakan kendaraan pribadinya.

“Kalau sebelumnya, lebih banyak yang memilih naik Byson. Bahkan sehari bisa full penumpang. Itupun bisa sampai dua rit (pergi-pulang). Dulu orang lebih memilih naik Byson, karena jalan masih rusak. Mereka khawatir kalau naik kendaraan pribadi saat jalan masih rusak parah, apalagi saat musim hujan. Tetapi sekarang jalan sudah enak, (penumpang, red) sepi,” tutur Rohim bernada mengeluh.

Rohim menjadi sopir angkutan umum dengan Byson sejak tahun 2000. Dalam ingatannya, 19 tahun silam rute Bantaran-Sumber masih sangat menjanjikan untuk usahanya. Selalu ramai penumpang, terutama warga Sumber yang turun ke Bantaran untuk membeli berbagai kebutuhan pokok.

Bahkan karena jalan kondisinya masih rusak, waktu tempuh dari Desa Sumber hingga ke Desa Ledokombo saja menurut Rohim bisa sampai tiga jam. Sedangkan dari Sumber ke Desa Wonokerso bisa sampai empat jam. Durasinya akan bertambah lagi kalau sedang musim hujan. “Belum kalau bannya selip, atau ban kempes. Makanya, orang di Sumber dulu jarang naik mobil pribadi. Mereka lebih memilih naik Byson,” terangnya.

Seingat Rohim, jumlah angkutan desa di rute Bantaran-Sumber pernah mencapai puluhan unit. Tetapi yang bertahan sekarang tinggal tujuh unit. Itupun tidak semuanya keluar setiap hari. Sebab, penumpangnya memang sangat sepi.

Demi mengurangi kerugian, pemilik mobil Byson akhirnya merelakan kendaraannya melayani jasa  pesan-antar barang. “Ya (barang, red) apapun. Material bangunan pun kita juga terima. Yang penting ketika jalan, kita nggak rugi, karena jarak tempuh kan jauh,” katanya.

Rohim menuturkan, kalau diminta mengangkut material bangunan, ia mematok tarif 5 ribu per satuan barang. “Misalnya (mengangkut, red) asbes ada 5 buah, (tarifnya, red) ya tinggal dikalikan lima ribu rupiah. Begitu juga dengan lainnya,” katanya.

Barang jenis itu biasanya diangkut ketika mereka start dari Bantaran menuju Sumber. Sedangkan ketika balik dari Sumber, angkutan umum itu biasanya ganti mengangkut sayuran yang dititipkan petani. “Kalau sayur, biasanya kami patok harga Rp 10 ribu per ikat. Kalau ada sepuluh ikat, tinggal dikalikan,” katanya.

Kata Rohim, hampir semua angkutan yang bertahan saat ini melayani jasa itu. Semuanya semata-mata demi bertahan dan mengais pendapatan. 

Rohim kemudian berharap, ke depan ada celah baru yang bisa mendongkrak pemanfaatan jasa angkutan umum di rute Bantaran-Sumber. Misalnya dengan adanya  pengembangan wisata P-30. Angkutan umum ini bisa diarahkan menjadi angkutan wisata. “Harapan kami Byson kami juga bisa jadi jasa angkutan wisata. Kalau ramai kan Alhamdulillah, bisa kembali seperti beberapa tahun lalu,” ujar Rohim. (rul/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan