Lain-lain

Paceklik, Buruh Tani Cari Kijing di Dasar Sungai Rondoningo


KRAKSAAN – Pekerjaan buruh tani dirasa tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Selain pendapatan tidak tetap, waktu kerjanya juga harus menunggu ada panggilan. Kalau tidak ada, ya nganggur. Nah, saat masa paceklik, tidak ada panggilan kerja, cukup banyak buruh tani nyambi mencari sejenis tiram (kijing) di dasar sungai.

Sungai Rondoningo di Kota Kraksaan, Rabu (31/7) sore itu nampak berbeda dibandingkan pekan lalu. Beberapa hari terakhir banyak warga yang seperti berendam di sana. Tua, muda, pria maupun wanita berkumpul di sana. Kebanyakan hanya terlihat kepala hingga bahu. Tubuh bagian bawahnya sudah terkubur di dalam air sungai.

Seperti yang nampak di bawah jembatan Semampir. Di sisi selatan nampak ada belasan orang yang melakukan hal yang sama. Ada yang berkumpul pada satu titik, ada juga yang terpencar sendirian. Beberapa saat setelah berendam, mereka mengangkat badan. Tangan terkepal menggenggam sesuatu berlumpur, lalu dimasukkan ke dalam karung yang dibawa di tangan lainnya.

“Kami mencari kijing, hewan laut sejenis tiram. Itu biasanya dijual ke tengkulak. Yang kecil bentuknya mirip kayak kupang, ini yang agak besar,” kata Mariyadi di tepian sungai sambil mengenakan celana pendek dan kaos sedikit usang.

Pria 57 tahun ini dulunya juga melakukan hal yang sama. Namun karena badannya sudah renta, ia mengaku tidak kuat menahan dinginnya air. Akhirnya, istrinya yakni Juma’ati (48) yang kini mencari kijing itu.

“Saya hanya menemani saja. Air payau itu sebenarnya hangat. Tapi kalau berendam berjam-jam, setelah badan naik, itu yang terasa dingin. Saya pasti menggigil, gak kuat,” terang warga Dusun Asemkandang, Desa Asembagus, Kota Kraksaan ini.

Ia mengantarkan istrinya ba’da zuhur. Ia menyebut pukul 12.00, istrinya suah menceburkan diri ke sungai itu. Istrinya bersama warga lainnya berada di sungai Rondoningo sekitar 5 jam. Mereka baru pulang ketika menjelang maghrib.

“Di sini yang nyari kijing banyak yang perempuan. Nggak tahu kenapa mereka kok lebih kuat berendam di air. Meskipun ada juga yang laki-laki. Tapi lihat itu, masih muda aja udah mentas (naik dari sungai, red),” kedua alisnya naik dengan mata tertuju pada remaja laki-laki yang bertelanjang dada dengan karung putih setengah terisi di tepian sungai.

Bapak 3 anak ini menerangkan, warga yang biasa mencari kijing mayoritas adalah buruh tani, pekerja serabutan atau ibu-ibu rumah tangga. Saat ini padi usai masa tanam dan belum waktunya panen, sehingga buruh tani tidak mendapatkan job.

“Sekarang laip (paceklik), Mas. Daripada di rumah mikir utang, malah stres. Mending dibawa begini, stres hilang. Walaupun utangnya nggak ikut hilang, kalau belum dibayar,” selorohnya.

Maryadi yang asli dari Kabupaten Kediri sudah sejak 1986 bekerja di Kraksaan. Tahun 1997, ia menikahi Juma’ati. Sebelumnya, ia bekerja sebagai buruh tambak udang. Seiring berjalannya waktu, kini ia bekerja sebagai tukang di industri mebel.

“Upahnya kadang Rp 50 ribu, kadang Rp 65 ribu per hari. Tergantung pesanan, karena saya juga kan kerja ikut orang. Sedangkan istri sebagai buruh tani diupah Rp 30 ribu per hari,” bebernya.

Ia menyadari hasil mencari kijing tidak seberapa. Untuk berendam di sungai sekitar 5 jam itu, istrinya bisa mendapatkan setengah karung. Ia kemudian mengolah dengan memisahkan daging dengan cangkangnya.

“Harga jual daging yang diolah Rp 20 ribuan per kilo. Tapi kalau carinya cuman1 orang, dapat gak sampai sekilo. Rata-rata Rp 12 ribu – Rp 15 ribu per hari. Kalau di rumah gak ada lauk, ya itu yang dimasak,” ulas kakek 3 cucu ini.

Fenomena mencari kijing ini menurut Maryadi, hanya pada saat musim kemarau. Saat itu, air di sungai Rondoningo masih payau atau malah disebutnya masih lebih terasa asin dibanding rasa tawarnya. Saat itulah banyak hewan laut yang berada di dasar sungai. “Saat itu juga kami mengisi waktu luang dengan mengangkutinya satu per satu dari dasar sungai,” ucapnya. (awi/iwy)


Bagikan Artikel