Lain-lain

Paralayang Lumajang Dimanja, Pengurus Probolinggo Iri


PROBOLINGGO – Pemkab Lumajang baru saja melakukan pengadaan 15 unit payung terbang alias parasut. Padahal Lumajang tak memiliki atlet yang kompeten dalam cabang olahraga (cabor) paralayang. Berbeda dengan Kabupaten Probolinggo yang memiliki atlet paralayang yang berhasil meraih perak di Porprov VI di Tuban beberapa waktu lalu.

Ketua Pengcab Cabor Paralayang Kabupaten Probolinggo Agung Pj mengaku terusik sekaligus minder dengan terobosan Pemkab Lumajang itu. Menurutnya, Pemkab Lumajang berani memberi support penuh terhadap pengembangan olahraga sekaligus objek wisata paralayang di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro.

“Saya sendiri yang ditunjuk sebagai advisor di sana. Melihat itu, tentunya ada rasa iri sekaligus tak percaya karena Kabupaten Probolinggo didahului oleh daerah yang belum memiliki atlet paralayang seperti Lumajang. Padahal kita seharusnya bisa di depan mereka,” ungkapnya, Kamis (25/7).

Menurutnya, keberanian Pemkab Lumajang untuk membelanjakan peralatan paralayang seharusnya dapat diikuti oleh Kabupaten Probolinggo. Ia mengakui peralatan paralayang cukup mahal. Tiap setnya kisaran harganya Rp 60 juta. Meski mahal, ia meyakini investasi itu tak akan sia-sia.

“Ibaratnya dengan modal parasut yang mencukupi, kita bisa dan berani mengembangkan olahraga paralayang dan wisata paralayang secara sekaligus. Asalkan, ada sarana dan prasarana pendukung seperti tempat terbang dan mendarat yang layak. Belum lagi di sekitar tempat itu gerak perekonomian akan muncul dengan sendirinya,” terang Agung panjang lebar.

Agung yang telah 21 tahun menggeluti paralayang mengatakan, di Kabupaten Probolinggo setidaknya ada 3 daerah potensi untuk menggelar olahraga paralayang. Yakni di Seruni Point, Sariwani, dan Mentigen. Untuk daerah yang disebut terakhir, pengelolaannya berada di bawah Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) selaku pemilik wilayah. Sehingga tidak perlu dimasukkan kedalam rencana pengembangan wisata paralayang.

“Dua daerah tersebut adalah anugerah terbaik yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Karena di situ kita bisa menggelar parasut dengan bebas dengan dukungan angin yang memenuhi syarat untuk terbang,” katanya.

Meski demikian, Agung mengembalikan keputusan akhir pada kebijakan Pemkab Probolinggo. Baik dalam hal pengadaan alat maupun lokasi tempat terbang dan mendarat paralayang. Dalam sudut pandangannya, semua yang menjadi dasar pengembangan olahraga dan wisata paralayang di kabupaten Probolinggo ada di 2 tempat yang disebutnya di atas.

“Sangat disayangkan apabila potensi yang ada ini tak dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah. Mengingat sebagian daerah sudah menggalakkan olahraga dan wisata paralayang secara beriringan. Contoh paling nyata adalah wisata paralayang di Kota Batu. Sehingga pantas apabila atletnya meraih emas karena mereka punya SDM dan saranannya,” terangnya.

Ia menilai, Kabupaten Probolinggo memiliki SDM dan SDA memenuhi syarat. Tapi tak memiliki sarana dan prasarana. Sehingga potensi yang dapat mendatangkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) itu akan sia-sia.

“Terus terang atlet peraih perak kami ketika hendak bertanding merasa minder dengan atlet dari daerah lain karena alat yang mereka pakai adalah hasil nyewa. Satu kali terbang biaya sewanya Rp 150 ribu. Kan lebih baik kita punya sendiri alat itu, agar nantinya bisa dipakai oleh mereka untuk berlatih sekaligus untuk jasa wisata paralayang tanpa harus mendatangkan dari luar daerah,” terang Agung. (tm/eem)


Bagikan Artikel