Lain-lain

Muncul Lagi Penolakan Venue Semipro


PROBOLINGGO – Muncul lagi sikap menolak penggunaan Stadion Bayuangga sebagai venue Semipro (Seminggu di Kota Probolinggo) 2019. Sebelumnya, baliho Semipro di perempatan flora dicoret. Kemarin (17/7) di lokasi yang sama terpasang lagi spanduk penolakan terhadap Semipro.

Spanduk berwarna putih itu dipasang dipagar, dengan tulis cat semprot “No Semipro, Love Persipro”. Belum diketahui siapa yang memasang spanduk tersebut. Warga sekitar yang ditanya, jawabannya sama, yakni tidak tahu.

Ketua Jinggomania (julukan suporter Persipro) Suhartono alias Tono Tambayong mengaku tidak tahu siapa yang memasang spanduk itu. Pihaknya saat ini masih mencari siapa oknum yang memasang spanduk tersebut.

Tetapi menurut Suhartono, siapapun yang melakukan, maksudnya adalah protes penggunaan stadion untuk acara Semipro. Dan protes seperti itu wajar terjadi. Sebab, mereka tidak ingin dan tidak rela stadionnya rusak, karena ditempati hiburan dan pameran.

Tono kemudian juga meminta agar kegiatan Semipro tidak menempati stadion. “Pokoknya jangan di sana. Masih banyak tempat lain,” tandasnya, Rabu (17/7) sore.

Jika panitia bersikukuh, pihaknya akan menggelar aksi turun jalan hingga Semipro tidak diadakan di stadion. Tono menyayangkan, panitia Semipro memaksakan diri menggunakan stadion. Padahal pencetus dari Semipro, yaitu mantan Walikota Probolinggo dua periode HM Buchori pun disebutnya tidak pernah menggunakan stadion. “Lho, pencetus Semipro, Pak Buchori saja tidak pernah menggunakan stadion,” ujarnya.

Ditambahkan, lebih dari 10 tahun pagelaran Semipro tidak pernah sekalipun menempati stadion. Tono menyadari kalau suporter tidak memiliki kewenangan mengatur-atur stadion. Tapi sebagai warga, ia berhak menjaga stadion.

“Kami sebagai warga merasa ikut memiliki. Kalau untuk olahraga, monggo kami tidak mempermasalahkan. Kalau untuk hiburan, ya jangan. Kami tetap menolak,” katanya.

Sementara, Asisten Pemkot Probolinggo Gogol sebagai ketua Semipro 2019 menyatakan sudah menyerahkan sepenuhnya persoalan stadion ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disikpora). Sebab, Stadion Bayuangga di bawah pengelolaan Disdikpora. “Kan kewenangannya Disdikpora. Kami sudah menghubungi Pak Maskur. Ya, untuk bertemu dengan Persipro atau suporter,” kata Gogol, kemarin.

Sedangkan Kepala Disdikpora Maskur mengaku sudah menghubungi Persipro. Menurutnya, persoalan laga home Persipro di Liga III akan digelar 25 Agustus mendatang. Persipro sudah mengajukan penundaan pertandingan.

Hanya, belum diketahui, apakah permohonan perubahan jadwal itu dikabulkan atau tidak. “Saya rasa, bisa (ada penundaan, red),” katanya.

Memang, lanjut Maskur, jadwal pertandingan home Persipro tidak bertepatan dengan acara Semipro yang akan dimulai 31 Agustus dan berakhir 7 September. Namun, tanggal 25 Agustus itu Semipro sudah melakukan persiapan di stadion. “Ya kan persiapan. Selama persiapan, kan stadion harus kosong. Tidak ada kegiatan,” katanya.

Sementara itu, adanya penolakan penggunaan Stadion Bayuangga sebagai venue Semipro 2019, mendapat sorotan Ketua Komisi I DPRD Kota Probolinggo Abdul Azis. Ia meminta persoalan tersebut segera diselesaikan, karena waktu gelarannya tinggal 1,5 bulan saja.

Abdul Azis mengatakan hal itu kemarin (17/6) siang usai mengikuti sosialisasi anti korupsi yang digelar KPK di gedung DPRD. Menurutnya, pemkot bersama panitia Semipro perlu segera bertemu dengan pihak-pihak yang menolak. Itu agar persoalan tersebut tidak sekedar menjadi wacana di ranah publik.

Azis kemudian memberi pilihan, jika memang Semipro harus menggunakan stadion, maka perlu dicarikan alternatif lapangan untuk laga home Persipro di Liga III. Tentu lapangannya harus sesuai standar lapangan yang ditetapkan PSSI.

Misalnya, di lapangan Karya Bakti milik Batalion Zipur 10. Tetapi kalau memang tidak memenuhi syarat, misalnya ruang istirahat dang anti baju pemain serta official, pelatih dan wasit, maka perlu dilengkapi. Begitu juga pagar keamanan pemain dan penonton. “Makanya, kami minta segera bertemu, agar lapangan yang tidak standar  sarana dan prasarananya bisa dilengkapi,” ujar Azis.

Mengenai kekhawatiran suporter bahwa rumput stadion akan rusak bila dipakai Semipro, pengelola stadion yaitu Disdikpora harus member jaminan recovery.  “Disdikpora harus memastikan recovery-nya seperti apa,” tandasnya.

Terhadap keberatan yang disampaikan suporter Persipro yaitu Jinggomania,  menurut Azis, tidak bisa dipersalahkan. Sebab, penggunaan stadion untuk event hiburan dalam waktu yang lama dipastikan akan mempengaruhi kondisi stadion. “Seperti Gelora Bung Karno di Jakarta itu tidak boleh untuk konser. Karena memang merusak rumput,” jelasnya.

Lalu apakah Komisi I akan turun tangan menyelesaaikan permasalahan ini? Azis menyatakan tidak akan ikut campur selama pemkot dan panitia Semipro bisa menyelesaikannya. “Kalau memang tidak bisa diselesaikan, kami akan mempertemukan mereka,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel