Istiqomah Mencerdaskan

Tercepat dan Terpercaya

Lain-lain

Pasutri Naik Haji dari Hasil Jualan Tempe

PROBOLINGGO – Dari 155 calon jamaah haji (CJH) Kota Probolinggo yang akan diberangkatkan ke Tanah Suci di musim haji saat ini, Aksan Bahrawi Ismail menjadi sosok menarik perhatian. Walau cukup dengan bekerja sebagai penjual tempe, tetapi Aksan Bahrawi kini mampu pergi haji bareng istrinya, Asnanti.

Namanya Aksan Bahrawi Ismail. Tetapi bapak dengan 8 anak dan 15 cucu itu sehari-harinya malah lebih karib disapa Khusaeri. Karena itu, wartawan sempat kesulitan kala kemarin (2/7) mencari keberadaan rumah Aksan Bahrawi Ismail di Blok Mantong, Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo.

Terlebih, Aksan Bahrawi yang tercatat sebagai CJH tertua Kota Probolinggo di musim haji tahun ini, tercatat di Kemenag dengan alamat RT 3 RW 3. Padahal, rumahnya Aksan Bahrawi ternyata di RT 5 RW 13.

Saat dikunjungi kemarin, situasi rumah Aksan seperti tidak ada tanda-tanda pemiliknya bakal pergi ke Tanah Suci. Bahkan 2 tas pemberian Kemenag juga belum terisi. Hanya nama dan kloter-nya yang sudah tertulis dan terpasang di dua tasnya. “Ya, begini saja. Kan berangkatnya satu bulan lagi,” ujar Aksan Bahrawi.

Pria yang sehari-harinya berjualan tabung gas elpiji ini membenarkan kalau nama aslinya Aksan Bahrawi Ismail. Namun nama itu diubah menjadi Khusaeri atas kesepakatannya saat nikah dengan Asnanti.

Menurutnya, perubahan nama sudah biasa terjadi ketika seseorang menikah. “Diubah saat akad nikah. Kebiasaan orang dulu begitu. Nama asli saya Aksan Bahrawi Ismail. Khusaeri itu nama julukan. Kalau di sini, saya dipanggil dengan nama julukan itu,” tuturnya.

Sebenarnya, mulai kecil hingga menikah, Khusaeri tinggal di Pasuruan. Ia pindah ke Kota Probolinggo setelah mempersunting Asnanti. Itu karena ia diminta oleh orang tuanya untuk menempati rumah yang kini dihuni. Saat menikah dan masih tinggal di Pasuruan, Khusaeri mengaku berjualan tempe. “Dari tahun 1960 sampai 1975 kami tinggal di Pasuruan, berjualan tempe,” aku Khusaeri.

Lalu pada tahun 1975, Khusaeri dan istrinya pindah ke Sumbertaman, Kota Probolinggo. Mereka kemudian meneruskan usahanya membuat dan berjualan tempe hingga tahun 2003.

Setelah itu Khusaeri berhenti berjualan tempe atas permintaan anak-anaknya dengan alasan usia. Khusaeri kemudian tinggal di rumah dan berjualan tabung gas elpiji. “Sejak 2003 kami tidak jualan tempe. Sekarang jualan kecil-kecilan. Tabung gas,” tambahnya.

Namun Khusaeri mengakui bahwa uang untuk berhaji tahun ini bersama istrinya berhasil dikumpulkan dari hasil jualan tempe. Khusaeri menabung sejak pindah ke Kota Probolinggo hingga ONH-nya lunas tahun 2013.

Sisa hasil jualan tempe dia tabung ke salah satu bank. Tetapi karena tidak tahu soal bank, Khusaeri menabung lewat tetangganya yang seorang jagal sapi. “Ya, titip ke tetangga. Kan disini ada 2 orang menjual daging sapi,” ujarnya.

Kadang, lanjut Khusaeri, uangnya dipinjam lebih dulu oleh tetangganya itu  untuk tambahan modal. Khusaeri tidak pernah mempermasalahkannya, karena setelah dikembalikan, uang itu benar-benar ditabung ke bank. “Mereka jujur, meski uang saya dipinjam dulu. Bahkan uang saya bertambah. Saya diberi penghasilan,” jelasnya.

Soal usaha tempenya, Khusaeri mengaku pemasarannya tidak di wilayah kota, tetapi dijual di Pasar Paiton. Dari Sumbertaman ke Paiton ia biasa naik MPU (Mobil Penumpang Umum). Kadang kala naik bus.

Lokasi Khusaeri jual tempe dirasa terlalu jauh. Sedangkan usianya sudah senja. Karena itu, ia dilarang berjualan lagi oleh anak-anaknya. “Jauh, sekitar 50 km. Ya setiap hari saya ke Pasar Paiton,” imbuhnya.

Lalu apa yang dipersiapkannya untuk dibawa ke Tanah Suci? Pasutri tersebut mengaku membawa obat-obatan seperlunya. Sebab, Asnanti  memiliki penyakit diabetes. “Ya membawa pakaian sama uang saku. Kami juga bawa obat-obatan. Kan saya sakit diabetes. Kalau suami saya masih sehat, meski sudah tua,” ujar Asnanti.

Pasutri ini berharap tetap sehat sejak berangkat hingga kembali dari Tanah Suci. Namun, mereka pasrah bila ajal menjemput di Tanah Suci. “Kami pasrah kalau memang ditakdirkan meninggal di Mekkah,” kata Asnanti.

Kepada mereka yang punya keinginan melaksanakan ibadah haji, Khusaeri dan Asnanti berpesan agar segera menabung. Mereka menjadikan dirinya sebagai contoh nyata. “Kalau kami tidak menabung, dari mana dapat ongkos naik haji,” ucap Asnanti. (gus/iwy)

Pasutri Aksan Bahrawi Ismail dan Asnanti akan naik haji pada tahun ini. (Agus Purwoko/Koran Pantura)

Tinggalkan Balasan