Lain-lain

Keberatan karena Faktor Kuburan, Polemik soal Bangunan Kremasi


KRAKSAAN – Polemik soal bangunan untuk kremasi di Desa Asembakor, Kraksaan, yang diresahkan warga, belum mencapai titik temu. Sebagian warga masih keras menolak keberadaan bangunan tersebut. Salah satunya karena bangunan itu didirikan di atas tanah bekas kuburan.

Husmaniah, salah satu warga setempat, kemarin (18/6) mengatakan bahwa bangunan itu didirikan di atas tanah yang ada banyak kuburannya. Tentunya kuburan itu milik keluarga warga desa setempat. Kuburan yang digusur secara tak wajar itu justru sangat melukai para ahli waris yang hidup saat ini.

“Di timur itu kan kuburan. Dan di bawah bangunan itu banyak kuburan yang sudah dihilangkan saat awal dibangun. Itu sudah melanggar norma sosial,” kata Husmaniah yang juga seorang perangkat desa setempat.

Berikutnya, Mul, juga warga Asembakor, menyatakan penolakan serupa. Selain karena untuk kremasi, bangunan itu didirikan di atas tanah kuburan. “Di bawah itu banyak kuburan warga setempat, yang batu nisannya dibuang saat awal pembangunan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Asembakor Zainullah menyatakan tidak begitu mengerti atas adanya kuburan tersebut. Sebab menurutnya, kuburan itu telah dipindahkan warga ke tempat lain. “Saya nggak tahu pasti. Kabarnya, dulu sudah dipindah kuburan di sana,” katanya.

Lalu menurut Kades Zainullah, tanah tersebut milik perorangan, bukan tanah kuburan atau waqaf. Sebab, sebelum bangunan itu didirikan, tanah itu dijual pada orang lain. “Kalau tanah kuburan, saya pasti salah. Tetapi justru itu tanah perorangan,” jelasnya saat dikonfirmasi.

Sedangkan Sekretaris MUI Kabupaten Probolinggo Yasin menyampaikan  pihaknya akan melakukan klarifikasi atas kabar dan laporan terkait persoalan ini. “Kami masih mendalami dan perlu tabayyun,” ujarnya. (yek/iwy)


Bagikan Artikel