Lain-lain

GIC Jadi Gedung Hayam Wuruk

Gedung Islamic Center di Jl Basuki Rahmad Kota Probolinggo yang saat ini sudah berubah nama menjadi Gedung Hayam Wuruk. (Agus Purwoko/Koran Pantura)

PROBOLINGGO – Sejumlah kalangan menyayangkan perubahan nama Gedung Islamic Centre (GIC) di Jl Basuki Rahmad Kota Probolinggo menjadi Gedung Hayam Wuruk. Perubahan itu dinilai tidak tepat, karena akan mengubah fungsinya.

Salah satu yang menyayangkan perubahan itu adalah Ketua MUI Kota Probolinggo KH Nizar Irsyad. Menurutnya, nama GIC sudah cocok dengan fungsinya, yaitu untuk kegiatan keagamaan. Misalnya pengajian, manasik haji dan pertunjukan keagamaan lainnya, bahkan resepsi pernikahan hingga pameran UKM.

Kiai Nizar mempertanyakan alasan perubahan tersebut. Sebab, bila diubah menjadi Gedung Hayam Wuruk (GHW), maka fungsinya juga akan berubah. Gedung di atas lahan seluas 7 ribu meter persegi itu akan diisi berbagai acara. “Ya nanti semua acara bisa masuk. Segala jenis musik anak-anak muda bisa tampil di sana. Bukan lagi kegiatan keislaman,” tandas, sore kemarin (10/12).

Karena itu, Kiai Nizar meminta pemkot mengembalikan GHW ke GIC. Terlebih, perubahan nama itu tidak melalui proses atau tahapan. Menurutnya, MUI dan organisasi keagamaan lainnya belum pernah diberitahu ataupun dikumpulkan untuk membahas perubahan nama tersebut. “Saya baru tahu dari sampeyan. Jangan seenaknya mengubah nama. Lalui tahapan dan ajak bicara kami dan ormas yang lain dan SKPD terkait,” kata Kiai Nizar pada Koran Pantura.

Hal senada disampaikan Ketua Komisi III DPRD Kota Probolinggo Agus Riyanto. Menurutnya, perubahan nama tidak menjadi penting. Yang lebih penting adalah mengoptimalkan fungsi sesuai namanya. Jika nama gedung bernuansa Islami, maka kegiatan yang ada di dalamnya harus berbau dan bernuansa Islami. Seperti, musik Islami, pengajian atau acara lain yang ada keterkaitan dengan Islam.

Tetapi menurut Agus, ternyata selama GIC berdiri hingga saat ini, acara yang digelar didalam gedung campur aduk alias gado-gado, bukan khusus untuk acara kegiatan keagamaan. Agus kemudian menyebut GIC diisi acara resepsi pernikahan, musik kalangan muda, bahkan musik punk pernah tampil di GIC. “Ya, harus sesuai dengan namanya. Jangan kemudian di dalamnya ada acara kalangan muda. Misalnya seperti seminar dan lain-lain,” tandasnya.

Terkait dengan nama GIC yang masih berbahasa asing,  dan pemerintah menghendaki nama-nama gedung dan perumahan diganti berbahasa Indonesia,  menurut Agus tidak perlu mengubah nama GIC menjadi GHW. “Kalau lebih lokal dan meng-Indonesia, saya rasa tidak perlu mengubah. Cukup tulisannya saja diubah ejaan Bahasa Indonesia,” katanya.

Terpisah, Kabid Aset Abdi enggan berkomentar soal perubahan nama GIC menjadi GHW. “Saya enggak enak kalau komentar. Sampeyan hubungi saja Pak Sekda atau Pak Imanto,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan