Lain-lain

PA Probolinggo Pastikan Surat Cerai Sah

PROBOLINGGO – Kegalauan Guruh Rakasiwi, warga Kota Probolinggo, tentang akta cerai yang dipegang istrinya, terjawab sudah. Akta cerai yang terbit tanpa ia ketahui itu dipastikan sah dan diterbitkan secara legal oleh Pengadilan Agama (PA) Kota Probolinggo.

Guruh Rakasiwi adalah mantan suami dari Cici Nur Cahya, perempuan yang digerebek warga saat rumahnya kedatangan lelaki bukan suaminya hingga larut malam. Dalam kejadian itu, Cici menunjukkan surat cerainya dengan Guruh. Tetapi Guruh merasa tidak pernah bercerai, dan tidak tahu menahu dengan surat cerai tersebut.

Nah, kasus itu kemarin (27/5) dikonfirmasikan kepada Ketua PA Kota Probolinggo Edy Afan. Saat ditemui di kantor PA Kota Probolinggo di Jalan Raya Bromo, Edy Afan menjelaskan bahwa akta cerai atas nama Cici Nur Cahya (24) dan Guruh Rakasiwi (32) sudah sah, dan telah dikeluarkan PA Kota Probolinggo pada 3 Desember 2018.

Dijelaskan bahwa pendaftaran perkara gugat cerai tercatat tanggal 11 Oktober 2018, dengan nomor perkara 0485 tahun 2018. Menurut Edy Afan, yang mengajukan gugat cerai adalah Cici Nur Cahya. “Saya lihat data itu di SIPP Sistem Informasi Penelusuran Perkara,”tandasnya.

Sehari setelah pendaftaran, PA menunjuk majelis hakim yang akan menangani gugat cerai Cici Nur Cahya, yakni tanggal 12 Oktober 2018. Dan sidang pertama digelar 29 Oktober. Sebelum sidang digelar, PA atau majelis hakim memanggil para pihak seperti, penggugat dan tergugat. “Keduanya kami panggil pada 18 Oktober. Penggugat ada di rumah, tetapi tergugat (Guruh) tidak ada,” tambahnya.

Lantaran yang mengirim atau menyampaikan surat panggilan sidang tidak ketemu dengan tergugat Guruh Rakasiwi, surat penggilan akhirnya disampaikan ke kelurahan.  Tujuannya agar surat tersebut oleh kelurahan disampaikan ke yang bersangkutan. “Berita acara penerimaan surat dari kelurahan ada. Ditandatangani,” ujar ketua PA.

Sebenarnya, lanjut Edy Afan, hakim bisa langsung memutuskan perkara gugat cerai tersebut, meski pihak tergugat tidak datang di sidang hanya sekali. Namun, majelis hakim memilih sidang lanjutan yakni, sidang kedua.

“Surat panggilan kedua, kami sampaikan ke kelurahan tanggal 01 November. Tapi tergugat Guruh Rakasiwi tidak datang. Akhirnya sidang diputus dan keluarlah akta cerai tanggal 3 Desember 2018,” katanya.

Dijelaskan, surat penggilan pertama dan kedua tergugat disampaikan ke alamat yang tertera di akta cerai atau rumah Guruh Rakasiwi. Jika yang bersangkutan di rumahnya tidak ada, petugas menyerahkan ke kantor kelurahan. “Urusan surat penggilan nyampai atau tidak, itu urusan kelurahan. Kami tidak bisa dituntut kalau surat tidak nyampai ke orang yang dipanggil,” pungkasnya.

Terpisah, Guruh Rakasiwi mengaku dua surat yang dikirim ke dirinya tidak ada yang sampai. Hal tersebut disesalkan, karena dirinya tidak tinggal di Jalan Argopuro Gang XV RT 4 RW 4, kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, sesuai alamat yang tertera di akta cerai.

“Kok dikirim ke sana. Saya lho tinggal di Jalan Dr Soetomo, Kelurahan Tisnonegaran, rumah istri saya. Kelau begini, terus siapa yang disalahkan?” tandasnya.

Meski menyesal, Guruh menyatakan tidak mempermasalahkan. Yang ia herankan, dirinya tidak menerima pemberitahuan atau tembusan kalau akta cerai sudah terbit. Padahal, akta cerai adar dua. Yang satu untuk istri, satunya untuk suami.  “Jadi saya tidak tahu kalau sudah bercerai dengan istri. Kami tidak menerima akta cerai. Kemana akta cerai saya,” ucapnya.

Atas kejadian tersebut, Guruh menyatakan bakal mendatangi kantor PA untuk bertanya sekaligus klarifikasi. Guruh tidak mempermasalahkan bercerai dengan istrinya. Tetapi ia menyesalkan proses perceraian sehingga dirinya tidak mengetahui. “Secepatnya, saya akan ke PA. Meminta penjelasan dan konfirmasi,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan