Lain-lain

Awal Tanam, Harga Bibit Tembakau Mahal

KRAKSAAN – Pada awal musim tanam tembakau ini, masih sedikit bibit tembakau yang dihasilkan pembibit di Kabupaten Probolinggo. Persediaan yang terbatas membuat harga jual bibit tembakau tinggi.

Misnaji (56), salah seorang pembibit tembakau VO Paiton mengatakan, harga jual bibit tembakau saat ini mencapai Rp 40 ribu per 1.000 pohon. Angka itu lebih tinggi dibandingkan harga pada periode yang sama tahun sebelumnya. “Awal tanam tahun lalu harga bibit kisaran Rp 25 ribu – Rp 30 ribu. Kalau sekarang harganya Rp 40 ribu,” kata Misnaji kepada Koran Pantura, Rabu (22/5).

Menurutnya, tergolong mahalnya harga jual bibit tembakau ini dikarenakan minimnya persediaan bibit dari petani. Misnaji menjadi salah satu pembibit yang mulai menyemai bibit lebih awal. Sehingga mendapatkan harga jual yang lumayan.

“Saya garap bibit ini lebih dulu dari yang lain. Walaupun memang waktu itu ada potensi gagal panen karena terkadang masih turun hujan. Tapi sekarang saya panen dulu, harganya cukup tinggi,” ungkapnya.

Ia menyebut, dari sepekan terakhir ini ia telah panen sebanyak 3 kali. Masing-masing dengan memenuhi pesanan 5.000, 4.000 dan 8.000 pohon. Artinya, sepekan itu Misnaji bisa meraup pendapatan Rp 680 ribu.

“Lahan saya ini saya buat 5 bidang pembibitan. Setiap bidang bisa menghasilkan 40 ribu bibit. Total 1 bulan ke depan bisa panen 400 ribu bibit. Kalau harganya tetap kayak gini, lumayan bagus buat saya,” selorohnya.

Dia menambahkan, rata-rata pembelinya bukan dari wilayah sekitar Kota Kraksaan, melainkan dari wilayah Kabupaten Probolinggo timur yang memang dikenal lebih dulu dalam menanam tembakau. “Orang jauh yang beli. Ada yang dari Paiton dan Pakuniran,” sebutnya.

Selain dikarenakan minim bibit yang dipanen, persediaan yang kurang juga disinyalir karena banyaknya bibit tembakau yang rusak. “Kayak gini kan gak bisa dipanen, harus dibuang,” kata Misnaji sembari mencabut bibit tembakau yang layu dan berwarna kekuningan.

Kondisi itu, katanya, disebabkan air yang tidak maksimal terserap ke dalam tanah. Sehingga tergenang pada satu titik. Akhirnya, air itu menyebabkan bibit tembakau rusak. “Kalau sekarang memang harganya mahal, karena belum banyak dipanen. Tapi kalau pembibit lain juga dipanen, harganya jadi murah, kadang sampai Rp 20 ribu per 1.000 pohon,” beber Misnaji. (awi/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan