Lain-lain

Pihak Travel Bantah Telantarkan Jamaah

KABAR soal 32 jamaah umroh yang terlantar ini dibantah keras pemilik travel umroh PT Shabilla Ebaldo Utama, Sholechah Madjid. Menurutnya, yang terjadi bukan penelantaran jamaah, melainkan sikap jamaah yang kurang baik sejak sebelum berangkat ke Tanah Suci.

“Tidak benar. Insha Allah mereka sudah dalam perjalanan pulang.  Ada enam orang sudah perjalanan pulang. Sisanya baru besok pulang,” jelas Sholechah saat dikonfirmasi kemarin.

Menurut Sholechah, sebelum keberangkatan 32 jamaah ini, memang ada sedikit paksaan dari pihak keluarga, dan dengan membayar DP Rp 6,5 juta. Itu pun bukan berasal dari jamaah, melainkan dari orang Probolinggo yang bernama Mursida.

“Nah, ini awalnya kami tidak tahu menahu persoalan daftar umroh ini. Karena awalnya mereka yang ikut ini membeli alat kesehatan dengan harga Rp 10 juta. Nah Rp 6,5 jutanya ini untuk didaftarkan DP umroh,” kata Sholehah.

Karena kondisi itu pula, 32 jamaah yang daftar ke Mursida akhrnya datang kepada dirinya. Termasuk sedikit memaksakan mereka harus berangkat ke Tanah Suci. “Nah, paksaan untuk berangkat ini karena mereka sudah kadung tahu kepada tetangga sebelah untuk berangkat,” katanya.

Karena keterpaksaan itu pula, akhirnya sholehah harus menjual tanahnya di Sidoarjo dan menggadaikan mobilnya untuk memberangkatkan 32 jamaah tersebut. “Karena mereka hanya bayar Rp 6,5 juta. Logikanya, mana ada harga segitu umroh di bulan Ramadan,” terangnya.

Dengan pembiayaan senilai Rp 22,5 juta per orang, artinya Sholehah harus menanggung biaya sekitar Rp 16 juta per orang. Artinya, ada pembiayaan yang ditanggung sebesar Rp 512 juta. “Kurang baik bagaimana kalau pembiayaan sebesar itu kami tanggung. Tetapi justru sebaliknya, yang kita terima, kurang sopan dan sedikit memaksa,” katanya.

Karena sikap yang kurang baik itu, mutowif yang sudah disewa untuk jamaah ini tidak sanggup dan memilih melarikan diri. “Kalau pendampingnya menghilang karena perlakuan mereka saja yang kurang baik. Mutowif yang sudah kami sewa nggak sanggup,” jelasnya.

Selanjutnya, Solechah mempersilahkan keluarga untuk melapor ke polisi.  “Kalau mau melapor ke polisi, silahkan. Wong yang mengancam dan memaksakan harus berangkat memang dari keluarga. Saya siap kalau misalnya dilaporkan ke polisi. Biar nanti polisi yang akan memprosesnya secara adil,” kata Solechah. (rul/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan