Lain-lain

Setelah Bawang Putih, Giliran Bawang Merah Anjlok

PROBOLINGGO – Jika beberapa pekan terakhir santer berita tentang bawang putih mahal, kini giliran bawang merah harganya anjlok. Masuknya bawang merah asal Kota Brebes Provinsi Jawa Tengah dan Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat ke pasar lokal menjadi pemicunya.

Fakta tersebut tercatat di Pasar Bawang Dringu Kabupaten Probolinggo. Berdasarkan pantauan Koran Pantura, Minggu (12/5), harga bawang merah kualitas super berada pada kisaran Rp 12 ribu/Kg. Padahal beberapa pekan sebelumnya harga bawang merah masih berada dikisaran Rp 32 ribu/Kg, dan terus berangsur turun menjadi Rp 23 ribu/Kg, Rp 18 ribu/Kg dan terakhir Rp 12 ribu/Kg.

Salah seorang pedagang bawang merah di sentra Pasar Bawang Dringu Dullah (40) mengatakan beberapa hal. Menurutnya terjadi penurunan harga bawang merah sejak sebulan yang lalu. Puncaknya ketika bawang asal luar daerah turut masuk ke Pasar Dringu dan membuat stok bawang merah melimpah.

“Di Brebes dan Bima sedang panen raya, jadi bawang dari dua daerah itu ikut masuk ke pasar ini,” ungkapnya, kemarin. Adanya selisih harga yang cukup tinggi, membuat para pedagang akhirnya membeli bawang merah dari Brebes dan Bima.

Harga bawang merah di kedua daerah tersebut jauh lebih murah daripada harga bawang milik petani di Probolinggo. “Di sana harganya berkisar Rp 9 ribu/Kg. Jadi kami berspekulasi untuk membeli bawang dari sana mengingat stok gudang bawang kami masih belum terisi penuh,” jelasnya.

Alhasil dengan membanjirnya bawang merah asal luar daerah itu, membuat harga bawang merah lokal pun jatuh. Apalagi para pedagang hanya mau membeli bawang merah lokal dengan harga yang sesuai dengan harga pasar saat ini, yakni di kisaran Rp 12 ribu/Kg, “Harga itu untuk bawang kualitas super, kalau kualitas terendahnya hanya sekitar Rp 8 ribu/Kg,” tambah Dullah.

Hal ini tentunya dikeluhkan oleh kalangan petani bawang merah, salah satunya yakni Mahfud (53) asal Dringu. Disebutkannya harga pasaran di tingkat Rp 10 ribu/Kg membuatnya masih merugi. Pasalnya, harapan nekat menanam bawang merah di musim penghujan dengan biaya perawatan yang tinggi. Maka, tak sebanding dengan harga bawang yang dihargai oleh pedagang itu.

“Malas sudah nanam bawang kalau seperti ini terus caranya, kami sebagai petani seperti dipermainkan. harapan kami mendapatkan untung karena jelang lebaran, ternyata pupus karena bawang dari luar daerah juga masuk,” tegasnya.

Disebutkannya dalam hal ini pemerintah daerah sama sekali tidak punya kontrol dan perlindungan terhadap para petani lokal. Pasalnya bawang dari luar daerah secara leluasa bisa masuk ke sentra Pasar Bawang Dringu.

Padahal seharusnya bawang luar daerah itu dibatasi jumlahnya. “Seharusnya dibatasi, jangan asal dimasukkan agar harga bawang tetap stabil. Kalau seperti ini lagi, untuk kesekian kalinya kami rugi lagi dan mungkin kami malas nanam bawang lagi,” pungkasnya. (tm/ra)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan