Lain-lain

Porprov Mepet, Dana Operasional Tak Cair


PROBOLINGGO – Penyelenggaraan Porprov VI Jawa Timur kurang 2 bulan lagi. Namun, hingga kini kontingen atlet Kabupaten Probolinggo  belum memiliki persiapan apapun. Baik itu di bidang logistik, perlengkapan, maupun akomodasi. Pasalnya dana Porprov yang dialkokasikan oleh Pemkab Probolinggo senilai Rp 750 juta tak kunjung cair.

Berdasarkan penelusuran Koran Pantura, tidak cairnya anggaran untuk sekitar 220 atlet dan ofisial itu karena ada permasalahan antara KONI dan Disporaparbud. Khususnya dalam proses penganggaran pengadaan peralatan atau perlengkapan seragam kontingen atlet senilai Rp 265 juta yang ditolak oleh Badan Keuangan Kabupaten Probolinggo.

“Dalam RAB yang sudah kami persiapkan sejak 3 bulan yang lalu itu ternyata oleh Badan Keuangan diminta untuk direvisi. Sebab, untuk pengadaan seragam itu tidak boleh di-EO-kan, sehingga kami diminta untuk menganggarkannya dalam PAK,” ungkap Ketua KONI Kabupaten Probolinggo Sugeng Nufindarko, Minggu (28/4).

Munculnya masalah ini menurut Sugeng menimbulkan masalah baru. Sebab,  selain tidak bisa maksimal dalam mencairkan seluruh anggaran Porprov, juga harus dilakukan pengalihan anggaran sesuai dengan kode rekening masing-masing pos pembiayaan. Padahal sebelumnya dalam RAB sudah diposkan dalam satu rekening yang mencakup seluruh item perlengkapan Porprov.

Jajaran KONI Kabupaten Probolinggo menggelar rapat membahas program dan persiapan jelang Porprov 2019 beberapa waktu lalu. (Dokumen)

“Hal inilah yang membuat kami kebingungan. Pasalnya, dari pihak Disporaparbud tak kunjung ada ketegasan terkait penggunaan anggaran perlengkapan yang harus dimasukkan dalam PAK. Karena secara otomatis anggaran yang tak bisa dicairkan itu harus segera dicarikan dana talangan sementara, untuk keperluan seragam atlet itu,” paparnya.

Bahkan diungkapkan Sugeng, sebenarnya dari dana Rp 750 juta pun jauh dari kata ideal untuk keikutsertaan dalam ajang Porprov. Pembandingnya yakni pada keikutsertaan Kabupaten Probolinggo di Porprov sebelumnya di Banyuwangi, tersedia Rp 700 juta.

Kata Sugeng, untuk Porprov yang diselenggarakan hanya di satu kota saja sudah sangat pas-pasan anggaran. “Nah ini anggarannya hanya naik Rp 50 juta, tetapi diselenggarakan di 4 kota sekaligus, yaitu Tuban, Bojonegoro, Lamongan, dan Gresik. Apa ya kiranya cukup?” ungkapnya.

Namun demikian, dikatakan Sugeng, sebagai langkah preventif, pihaknya setidaknya sudah mempersiapkan sejumlah anggaran yang dimiliki KONI Kabupaten Probolinggo. Itu sebagai dana prestasi ataupun reward bagi atlet peraih medali, apabila anggaran Porpov yang disediakan oleh Pemkab Probolinggo melalui Disporaparbud memang tidak cukup.

“Ya harus kami carikan. Bagaimanapun, kami tidak ingin membuat atlet kami di sana merasa terlantar karena keterbatasan dana. Yang harus mereka pikirkan hanya bertanding dan memberikan hasil yang maksimal karena ada reward yant telah disiapkan,” katanya.

Sementara, Sekretaris KONI Kabupaten Probolinggo Chalid Abubakar menyebutkan bahwa dipastikan jatah hotel terdekat dengan venue pertandingan di keempat kota tersebut sudah habis dipesan kontingen daerah lain. “Kita termasuk paling terlambat, karena daerah lain sudah booking hotel dan wisma penginapan yang terdekat dengan venue pertandingan. Semoga saja kita masih kebagian penginapan,” sebutnya.

Sedangkan Plt Kepala Disporaparbud Kabupaten Probolinggo Tatok Krismarhento dan Kabid Pemuda dan Olahraga Teguh Kawiandoko sampai kemarin belum berhasil dikonfirmasi soal ini. Saat dihubungi melalui sambungan telepon, nomor ponsel keduanya sedang tidak aktif. (tm/iwy)


Bagikan Artikel