Lain-lain

NU Kraksaan Peringati Harlah NU ke-96

KRAKSAAN – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Kraksaan menyelenggarakan istighotsah dan doa bersama dalam rangka memperingati hari lahir NU ke-96, akhir pekan lalu. Kegiatan digelar bersamaan dengan peringatan hari jadi Kabupaten Probolinggo ke-273.

Peringatan dilangsungkan di Masjid Agung Ar-Raudlah Kota Kraksaan. Kegiatan diawali dengan shalat Subuh berjamaah, lalu dilanjutkan dengan pembacaan istighotsah dan doa.

Sekretaris Tanfidziyah PCNU Kota Kraksaan H. Fauzan Hafidhi mengatakan, peringatan harlah kali ini sengaja dilaksanakan di Masjid Ar-Raudlah pada waktu Subuh. Tujuannya untuk membiasakan para pengurus NU menyelenggarakan kegiatan pada waktu Subuh.

“Sebelum kegiatan kan pastinya Subuh berjamaah dulu. Jadi, ini salah satu tujuannya untuk membiasakan Subuh berjamaah,” ujarnya kepada Koran Pantura.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program NU untuk memakmurkan masjid. “Selain itu kami mengajak para pengurus NU serta masyarakat umum membiasakan menunaikan ibadah shalat Subuh di masjid secara berjamaah,” ungkap warga Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan ini.

Usai istighotsah, A’wan PCNU Kota Kraksaan HA. Timbul Prihanjoko memberikan sambutan. Ia mengulas sejarah panjang peran NU dalam pembangunan Indonesia. “Bukan hanya pembangunan, NU juga berjasa besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI,” tegas Wakil Bupati Probolinggo ini.

Menurutnya, harlah NU ke-96 yang dilaksanakan sebelum pemungutan suara Pemilu 2019, merupakan momen penting. NU sebagai organisasi keagamaan terbesar di dunia, diharapkan bisa mendorong pengikutnya untuk menyukseskan Pemilu 2019.

“Pada Pemilu kali ini ada tren baru yang berkembang. Yaitu tren hoax melalui media sosial. Ini negatif dan berbahaya,” kata Timbul.

Ia menyinggung sejumlah kabar hoax yang beredar cukup luas di masyarakat. Yakni hoax yang menyudutkan pasangan calon presiden dan presiden. “Ada yang bilang kalau pasangan ini atau pasangan itu yang terpilih, adzan di masjid tidak lagi diperbolehkan. Ini sudah tidak benar,” tegas politisi PDIP ini.

Namun kata Timbul, sejauh yang ia tahu, tidak banyak masyarakat yang terpengaruh dengan berita hoax tersebut. “Persentase warga yang terpengaruh rendah sekali. Kisaran 6 persen saja. Masyarakat kita sudah paham mana yang hoax mana yang berita valid,” ungkapnya.

Oleh karenanya, ia berharap NU terus menjadi organisasi yang menjaga keutuhan NKRI, seperti yang telah dilakukan selama ini. Ia juga berharap NU berada di jalur yang selama ini ditempuhnya. Yakni sebagai organisasi penganut paham Ahlussunnah wal Jamaah.

“Dengan dasar inilah NU menjadi organisasi keagamaan terbesar di dunia dan salah satu penjaga NKRI paling berpengaruh,” tegas Timbul. (*)

Peserta istighotsah terdiri dari para pengurus NU dan masyarakat umum. Mereka membaca dzikir dalam kegiatan istighotsah bakda Subuh di Masjid Agung Ar-Raudlah Kraksaan pada akhir pekan lalu. (Abdur Rohim Mawardi/Koran Pantura)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan