Lain-lain

Pemkot Melunak, PKL Boleh Jualan di Trotoar


PROBOLINGGO – Sedianya, Pedagang Kaki Lima (PKL) dan pedagang bunga di depan Pasar Baru di tepi Jl Panglima Sudirman Kota Probolinggo, sudah dilarang berjualan di trotoar. Namun, Pemkot setempat melunak. PKL dan pedagang bunga tetap bisa berjualan. Dengan syarat, barang dagangan mereka dimundurkan agar pejalan kaki tetap bisa lewat trotoar.

Hal tersebut diungkapkan Sanema (58), salah seorang penjual bunga yang berjualan di trotoar Jl Panglima Sudirman. Warga Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran ini mengaku sudah bersepakat dengan petugas Dishub yang datang di lokasinya berjualan, kemarin pagi.

Petugas Dishub itu didampingi oleh ketua dan pengurus Paguyuban Pedagang Kreatif Lapangan (P-PKL). “Tempat dagangan saya diminta dimundurkan agar orang jalan masih bisa lewat trotoar,” ujarnya, Rabu (13/3) pagi.

Selain itu kata Sanema, akses trotoar tidak boleh sampai tertutup barang dagangan PKL. PKL juga diwajibkan menjaga kebersihan, ketertiban, dan merapikan dagangannya ketika tutup. “Sudah enggak apa-apa jualan di sini. Kami hanya diminta mundur ke belakang agar yang jalan kaki bisa lewat. Kami juga diminta menjaga kebersihan dan kerapian,” ungkapnya.

Sanema mengaku telah menerima surat dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian Kota Probolinggo. Melalui surat itu, PKL dilarang menjual bunga di atas trotoar Jl Panglima Sudirman demi menghindari kemacetan lalu lintas pada pagi hingga siang hari. Surat tersebut dibuat berdasarkan hasil rapat evaluasi uji coba penataan parkir di aula Dishub Kota Probolinggo, 28 Februari lalu.

Sementara Dimas (27), seorang pemilik warung makan di pinggir Jl Panglima Sudirman berjanji akan memindah sebuah gerobak dagangan milik pedagang lain yang berada di depan warung miliknya. “Tadi (kemarin, red) ada petugas ke sini dan meminta rombong (gerobak) ini dipindah. Akan kami pindah, tapi menunggu pemilik warung,” katanya singkat.

Di sisi lain, Alifurohman, ketua P-PKL membenarkan jika PKL dan pedagang bunga tetap bisa berjualan di lokasi semula. Hal itu tercapai setelah ada kesepakatan dengan Dishub. “Anggota kami tetap boleh berjualan. Hanya ditertibkan, karena barang jualannya menutup akses pejalan kaki,” terangnya.

Namun Alif menyayangkan pandangan pemerintah yang menilai PKL sebagai penyebab kemacetan lalu lintas di Jl Panglima Sudirman. Khususnya di sebelah utara Pasar Baru. “Sumber kemacetan sebenarnya adalah parkir kendaraan roda 2 dan 4 yang semrawut. Juga kendaraan yang melakukan bongkar muat pada pagi dan siang hari,” sergahnya.

Karena itu, ia meminta Dishub tidak hanya menertibkan PKL. Tapi juga menertibkan parkir kendaraan dan bongkar muat kendaraan barang. “Jangan hanya PKL yang dilarang dan ditertibkan. Parkir kendaraannya juga ditertibkan. Itu kendaraan bongkar barang, harusnya ditilang. Kan tidak boleh (bongkar muat) kalau pagi dan siang hari,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan, dan Perindutrian Kota Probolinggo Gatot Wahyudi membenarkan bahwa pihaknya yang membuat surat edaran dimaksud. Surat itu dibuat karena pihaknya diminta untuk menyurati PKL di depan Pasar Baru sisi selatan.

Menurutnya, surat itu dikeluarkan karena keberadaan PKL yang berjualan di trotoar membuat pejalan kaki melintas di bahu jalan. “Ketika rapat evaluasi uji coba parkir beberapa hari lalu, terungkap bahwa salah satu penyebab kemacetan di Jl Panglima Sudirman adalah keberadaan PKL itu,” terangnya, kemarin.

Soal efektivitas surat tersebut, Gatot mengaku tidak tahu. Sebab, hingga Rabu siang, Gatot belum turun ke lokasi, serta belum ada laporan dari stafnya terkait hal tersebut. “Kami belum tahu kondisi sebenarnya di lapangan. Apakah PKL tetap berjualan atau tidak. Kalau tetap berjualan dan hanya ditertibkan, enggak masalah. Ya, bagaimana enaknya,” ungkapnya. (gus/eem)


Bagikan Artikel