Lain-lain

Keluhkan Perpanjangan Pesta Rakyat

PROBOLINGGO – Perpanjangan gelaran Festival Pendalungan dan Pasar Rakyat di alun-alun Kota Probolinggo dikeluhkan Paguyuban Pedagang Kaki Lima (P-PKL). Sebab, acara yang mendatangkan pedangdut M. Shodiq itu dirasa hanya menambah panjang penderitaan PKL.

Sebab, pengunjung yang belanja kepada PKL lokal jumlahnya menurun.  Pengunjung  lebih banyak yang belanja kepada pedagang asal luar kota atau daerah yang berjualan di dalam alun-alun atau di area acara Pesta Rakyat. Sedangkan PKL lokal tetap berjualan di luar alun-alun.

Keluhan itu disampaikan Ketua P-PKL Alifurrohman, Minggu (10/3) siang. Ia menyayangkan acara yang awalnya digelar 4 hari, kemudian ditambah 2 hari. “Empat hari saja PKL mengeluh, apalagi sampai enam hari. Pembeli berkurang, karena pengunjung membeli ke pedagang di dalam alun-alun,” kata Alif, kemarin.

Selain itu, Alif juga menyayangkan penyelenggara acara atau Event Organizer (EO) bukan warga Kota probolinggo. Padahal, EO lokal banyak dan bisa mengerjakan atau melaksanakan acara seperti itu. “Kenapa pakai orang luar. Mending kan pakai EO asli sini. Saya rasa, EO sini mampu mengelola acara seperti itu,” ujarnya.

Karena menggunakan jasa EO dari luar daerah, kata Alif, pedagang dari luar yang dilibatkan. “Sampean tanya sendiri ke pedagang yang jualan di dekat panggung. Semuanya pedagang dari luar. Pedagang lokal enggak kebagian,” ujarnya.

Menyikapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Tutang Heru Aribowo membenarkan jika pihaknya menggandeng EO luar kota. Alasannya, EO luar menyanggupi fasilitas yang diminta, alias tidak pernah menolak.

Bahkan, lanjut Tutang, dengan dana minim pun mereka berani menggelar acara yang sesuai harapan. “Kami minta ini itu, semuanya disanggupi. Acara ini lho tidak ada dana dari kami (APBD). Kami hanya mendanai kesenian yang tampil,” katanya.

Tutang berharap, EO lokal belajar kepada EO luar kota dalam menggelar sebuah event. Nantinya, jika mampu, Tutang dan OPD yang lain akan menggunakan jasa EO lokal.

Karenanya, ia berharap EO lokal mulai saat ini nempel dan bergabung dengan EO yang sudah berpengalaman. Minimal mengetahui link atau mengenal orang-orang atau lembaga yang biasa terlibat di sebuah event hiburan. “Ya pastilah kami pakai nanti. Kalau memang teman-teman sini mampu,” ujarnya.

Terkait perpanjangan dua hari, Tutang membenarkan. Pihaknya melakukan hal itu  untuk menutupi keluhan PKL yang merugi dengan acara yang digelar Disbudpar bareng Muslimat NU dan Pemprov Jawa Timur. Sebab, di hari pembukaan dan satu hari berikutnya, alun-alun diguyur hujan deras. “Dua hari memang diguyur hujan. Penambahan itu sebagai pengobat para pedagang,” kata Tutang. (gus/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan