Lain-lain

Kemarau di Probolinggo Diprediksi Parah

KRAKSAAN – Musim kemarau di wilayah Probolinggo dan sekitarnya diperkirakan terjadi pada April 2019. Hal itu dinyatakan oleh Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Juanda Surabaya. Bahkan musim kemarau di Probolinggo diperkirakan lebih parah daripada kemarau 2018.

Prakirawan BMKG Juanda Shanas Prayuda menerangkan, kemarau tidak terjadi serentak di seluruh Indonesia. Sebab masing masing zona musim berbeda. Ada 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia. Dari jumlah tersebut, yang memasuki kemarau lebih awal ada 79 ZOM atau 23,1 persen dari seluruh ZOM. Kemarau akan terjadi di sebagian wilayah Nusa Tenggara, Bali, dan Jawa.

“Kemarau tidak berlangsung serempak. Perlu diwaspadai wilayah-wilayah yang awal musim kemaraunya maju atau lebih awal. Yaitu di sebagian wilayah NTT, NTB, Jawa Timur bagian Timur termasuk Probolinggo, Jawa Tengah, Jawa Barat bagian Tengah dan Selatan,” terangnya, kemarin (10/3).

Kondisi serupa juga diprediksi terjadi di sebagian Lampung, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Riau, serta Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Adapun wilayah yang periode kemaraunya akan lebih kering dari normalnya, yakni di wilayah NTT, NTB, Bali, Jawa bagian selatan dan utara, sebagian Sumatera, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Merauke. “Jadi, Probolinggo termasuk yang musim keringnya akan parah,” papar Shanas.

Hal itu merupakan prakiraan jangka panjang. Namun menurutnya, prakiraan jangka pendek juga perlu diwaspadai. Yakni kemungkinan terjadinya fenomena MJO (Madden Julian Osciliation) yang mempengaruhi intensitas curah hujan tinggi. MJO kata Shanas, adalah fenomena gelombang atmosfer yang bergerak merambat dari Barat atau Samudera Hindia ke arah Timur.

“Sehingga dapat meningkatkan potensi hujan di daerah yang dilewatinya. Fenomena ini diprediksi bertahan satu minggu ke depan. Namun tak menutup kemungkinan bisa lebih dari prediksi tersebut,” terangnya.

Dengan kondisi tersebut, MJO menyebabkan masuknya aliran massa udara basah dari Samudera Hindia ke wilayah Indonesia bagian barat dan tengah. Hal itu berdampak pada kenaikan curah hujan tinggi di wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi.

Selain MJO, juga terdeteksi adanya sirkulasi siklonik Samudera Hindia bagian Barat Sumatera. Situasi ini membentuk adanya daerah pertemuan angin cukup konsisten di wilayah Sumatera, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jawa.

“Selain bencana banjir, longsor, dan angin kencang, masyarakat juga perlu mewaspadai gelombang tinggi di laut,” imbau Shanas. (ra/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan