Lain-lain

Awas, Badai Mengintai hingga Akhir Pekan

KRAKSAAN – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda Surabaya memprediksi hujan deras akan melanda sebagian besar wilayah di Jawa Timur (Jatim). Termasuk wilayah Probolinggo. Hujan tersebut disertai angin kencang. Oleh karenanya, masyarakat diminta mewaspadai potensi bencana.

Prediksi itu sudah terjadi, Rabu (6/3) di wilayah Desa Tambakrejo dan Curah Tulis, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo. Wilayah itu porak-poranda akibat puting beliung. Bahkan ada satu korban jiwa yang meninggal dunia setelah tertimpa pohon tumbang.

Hujan disertai angin kencang juga hampir menyebabkan bencana serupa di wilayah Desa Gunggungan Lor dan Gunggungan Kidul, Kecamatan Pakuniran, kemarin (7/3). Saleh, Bendahara Desa Gunggungan Lor membenarkan ada satu pohon ukuran sedang tumbang, namun tidak membahayakan warga dan pemukiman.

Sementara Hidayat, warga Gunggungan Kidul mengungkapkan bahwa ada beberapa pohon mengalami patah dahan akibat angin itu. “Tapi tidak menimbulkan kerugian materi,” ujarnya, kemarin.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Juanda Teguh Tri Susanto mengatakan, berdasar data satelit dan pos pemantauan, wilayah yang berpotensi mengalami hujan angin merata hampir di seluruh Jatim. Khususnya di Kabupaten Jember, Bondowoso, Probolinggo, dan Situbondo.

“Diperkirakan akan terjadi hujan angin di Kabupaten Pasuruan, Malang, Kediri, Blitar, Kota Kediri, Kota Blitar sampai dengan Kabupaten Tulungagung,” sebutnya, kemarin.Kondisi ini menurutnya, bahkan bisa terus meluas hingga ke Kabupaten Sidoarjo dan Kota Surabaya. Kemudian merambat kembali ke Kabupaten dan Kota Mojokerto, serta Kabupaten Jombang.

Teguh mengemukakan, pihaknya sudah mengeluarkan peringatan dini kepada masyarakat supaya masyarakat waspada. Hal ini dilakukan agar mereka bisa mengantisipasi terjadinya kemungkinan hujan angin. “Kami berharap dengan adanya informasi dini masyarakat menjadi lebih peka dan juga lebih waspada akan terjadinya kemungkinan hujan di malam hari,” paparnya.

Sesuai informasi citra satelit, Provinsi Jatim dalam beberapa hari ke depan masih berpotensi terjadi hujan setiap harinya. Intensitasnya ringan sampai tinggi pada sore dan malam hari. Artinya, potensi bencana hidrometeorologi masih bisa terjadi sampai akhir pekan nanti. “Masyarakat bisa mempersiapkan diri, terutama untuk wilayah-wilayah yang lokasinya berada kawasan rawan bencana,” ujarnya.

Pihak telah berkordinasi dengan BMKG Pusat, dan menemukan penyebab terjadi cuaca ekstrem itu. BMKG memprediksi musim kemarau 2019 di Indonesia akan dimulai pada April dan mencapai puncaknya pada Agustus-September. Selain itu, di Provinsi Jatim, NTB, dan NTT diprediksi mengalami kemarau lebih kering dibanding wilayah lain. Artinya, pada bulan ini sudah masuk pada peralihan cuaca atau pancaroba.

“Ada daerah-daerah yang perlu diwaspadai karena ada yang memang musim kemaraunya lebih awal dari kondisi normalnya. Bahkan kemungkinan lebih kering dari kondisi awalnya, seperti NTT, NTB, Jawa Timur. Ini merupakan daerah yang kemungkinan musim kemaraunya lebih awal dan lebih kering,” ungkap Teguh. (ra/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan