Lain-lain

Putus Asa di Sulawesi, Ingat Ibu dan Istri


KRAKSAAN – Dewasa ini, tidak sedikit orang berusia muda yang meraih posisi mapan. Di lingkungan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Probolinggo, ada satu nama yang bisa disebut. Ia adalah Ardian Junaedi. Di usianya yang 38 tahun, Ardian sudah menduduki jabatan Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum). Di Kejari setempat, Ardian adalah jaksa termuda yang pernah duduk sebagai Kasi Pidum.

Pria asal Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang ini sedang berada di ruang kerjanya ketika Koran Pantura hendak menemuinya, Selasa (26/2) lalu. Di ruang ber-AC itu, dengan seragam dinas khas Kejaksaan yang ia kenakan, Ardian menyambut Koran Pantura dengan hangat.

Ia mengawali pembicaraan soal ruang kerjanya yang cukup luas. Desain dan tata ruangnya juga cukup bagus. Ardian tidak bermaksud membangga-banggakan ruang kerjanya yang nyaman. Ia justru ingin menyampaikan bahwa jabatan yang diembannya kini, berawal dari sebuah perjuangan yang cukup berat.

“Perjuangan menjadi seorang Jaksa tidak semudah yang dibayangkan kebanyakan orang, Mas. Kata orang berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, baru bersenang kemudian,” terang ayah dari 2 anak ini.

Perjuangan yang dimaksud Ardian, berawal ketika ia ditunjuk menjadi Kepala Seksi Intelejen di Kejari Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara. Jabatan itu merupakan amanat pertamanya setelah diangkat menjadi jaksa pada 2016 lalu. “Semua idealisme dan motivasi saya untuk menjadi seorang yang benar-benar jaksa, dipertaruhkan di situ,” ungkap suami dari Eka Monita Isma Husen ini.

Kala itu, Kejaksaan Agung membuka kantor kejaksaan negeri baru di Bombana. Jadi, Ardian masuk angkatan pertama di Kejari Bombana bersama 4 rekan kerjanya. “Di Bombana itu, baru didirikan kejaksaan. Karena saya angkatan pertama, saya dan teman-teman harus merintis dari awal. Saat itu (selain Ardian, red) hanya ada 4 pegawai. Yaitu Kepala Kejaksaan, Kasi Pidum, Kasi Pidsus, dan Kasi Datun,” tuturnya.

Karena kantor itu masih dalam tahap merintis, Ardian banyak dibenturkan dengan berbagai permasalahan dan ujian. Sebab, segala urusan administrasi harus dimulai dari awal. Bahkan kala itu, kantor Kejari Bombana numpang di salah satu kantor pemerintah kelurahan.

“Waktu itu belum ada anggaran yang disalurkan ke Kejari Bombana karena masih dalam tahap merintis itu. Saya sempat mengalami putus asa dan patah semangat. Sebab, selama berbulan-bulan, saya tak menerima gaji lantaran anggaran yang belum tersedia. Apalagi kami harus hidup di tanah orang,” kenangnya.

Ardian setidaknya tidak menerima gaji selama 5 bulan. Menurutnya, hal itu terjadi karena keteledorannya. “Keliru saya juga sih. Saya memutuskan untuk memutus suplai gaji dari tempat kerja saya sebelumnya di Kejari Kepulauan Murotai. Padahal di Bombana belum ada mess dan tak ada fasilitas lainnya. Jadi, untuk sementara waktu saya harus tinggal di kos-kosan,” kata Ardian.

Rasa putus asa pun makin sering melanda dirinya kala itu. Namun setiap kali rasa itu muncul, muncullah senyum almarhum sang ibu, Hj. Sri Purwati, dalam bayangannya. Hal itulah yang selalu membangkitkan semangat Ardian untuk terus berkarir di Bombana.

Eka Monita Isma Husen, istri Ardian, ketika itu tak tinggal seatap dengan Ardian. Kondisi itu membuat Ardian termotivasi untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. “Istri dan almarhum ibu yang selalu datang menyemangatkan saya,” ungkapnya.

Pada akhirnya, kantor rintisan di Bombana terwujud. Pada 2017, anggaran untuk kantor Kejari Bombana dicairkan oleh Kejaksaan Agung. Dan, pada tahun itu pula, Ardian mendapatkan penghargaan sebagai Kasi Intelejen terbaik kedua dari Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara. Capaian itu berkat keuletan kinerja bidang intelejen yang dilakoni Ardian.

“Usaha dan jerih payah saya terbayar. Kemudian saya pindah dan kembali ditugaskan di tanah kelahiran di Jawa Timur. Tepatnya di sini (Kabupaten Probolingo, red). Di sini, semua sistem sudah berjalan. Saya tidak harus memulainya dari awal. Intinya, (apa yang didapat saat ini) ini buah dari usaha yang lalu,” ungkapnya.

Setelah ditunjuk sebagai Kasi Pidum Kejari Kabupaten Probolinggo, barulah Ardian mendapat ruang kerja yang nyaman dan tenang. Tak hanya itu. Ternyata Ardian adalah jaksa dengan usia paling muda yang menjabat Kasi Pidum di Kejari Kabupaten Probolinggo. Tepat ketika usianya 38 tahun.

“Semua ini berkat doa orang tua dan istri saya yang selalu support. Saat saya jatuh dan harus meniti karir dari bawah, istri saya hadir untuk menemani saya. Saat ini, saya mulai memetik buahnya dan menikmatinya bersama istri tercinta,” kata Ardian dengan senyum penuh arti. (yek/eem)


Bagikan Artikel