Lain-lain

Gus Muwafiq Ceramah Hampir 2 Jam, Bilang Masih Mukadimah

PROBOLINGGO – KH. Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq adalah salah satu nama populer yang belakangan ini kerap muncul di banyak media. Terutama di media sosial. Materi ceramahnya dinilai pas dan mudah dicerna, plus masuk akal. Istana Negara pun cocok dengannya. Pada akhirnya, ulama berambut gondrong sampai juga di Probolinggo, Sabtu (23/2) malam lalu.

Kabar kehadiran Gus Muwafiq ke Probolinggo sudah tersiar sejak sekian waktu yang lalu. Banyak masyarakat yang berharap ulama asal Yogyakarta ini benar-benar bisa hadir ke Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, selaku pengundang.

Gus Muwafiq diundang untuk menjadi penceramah agama pada acara Haul Akbar dan Sholawat Muhammad di Pesantren Genggong di Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan. Warga yang hadir adalah para santri, alumni, hingga simpatisan. Tidak sedikit juga masyarakat umum. Dan, tidak sedikit pula dari mereka yang hadir hanya karena penasaran dengan Gus Muwafiq.

Sebut saja Mohammad Yasin, alumni Pesantren Genggong yang bekerja di Surabaya. Ia hanya datang ke pondoknya hanya jika ada acara-acara penting. Termasuk ke acara haul Sabtu malam lalu itu. “Apalagi ada Gus Muwafiq. Saya makin mantap untuk datang,” ungkapnya.

Yasin bersama 2 orang temannya berangkat dari Surabaya dengan naik mobil sewa pada pukul 19.00. Lalu tiba di Genggong sekitar pukul 21.00. Rombongan kecilnya lewat jalur tol agar cepat. Acara haul sendiri sudah dimulai usai sholat Isya’. Yasin sempat khawatir telat. “Alhamdulillah ternyata nututi meski tidak ikut dari awal,” katanya sambil nyengir.

Namun, Yasin harus bersabar. Demikian juga dengan hadirin haul, bahkan panitia. Pasalnya, hingga pukul 23.00, Gus Muwafiq belum tiba di lokasi acara. Sekitar 30 menit sebelumnya, tersiar kabar bahwa Gus Muwafiq sudah masuk jalur pantura Kecamatan Tongas.

Agar hadirin tidak keburu mengantuk, agenda acara pun ditambah. Grup hadrah yang dipimpin KH. Moh. Hasan Naufal, mengajak hadirin sholawatan hingga hampir pukul 24.00. Sekitar-sekitar jam itulah Gus Muwafiq tiba. Kehadirannya disambut pembacaan sholawat Badar.

Di jam-jam itu, hadirin seharusnya mengantuk. Tapi mereka berusaha cengar. Mencoba agar tidak terlelap tidur dengan posisi duduk. Benar saja. Mereka ajeg mendengarkan ceramah agama Gus Muwafiq.

“Kalau bukan warga NU (Nahdlatul Ulama, red), ya tidak bisa begini. Masih bertahan demi mengikuti haul. Haul itu yang tepat ya memang tengah malam begini. Ulama berdoa pada tengah malam ya karena sinyal doa tengah malam itu kuat. Pakai WiFi juga masih kuat,” kata Gus Muwafiq menggoda hadirin. Yang digoda pun gergeran.

Banyak hal yang disampaikan oleh Gus Muwafiq. Salah satunya soal doa kontroversial yang dipanjatkan oleh seorang artis perempuan kawakan beberapa hari lalu. “Doanya tidak pada tempatnya. Masak ada nada ancamannya. Kalau tidak mengabulkan permintaan, lalu mengancam tidak akan menyembah Gusti Allah lagi. Ini tidak pada tempatnya,” ungkap Gus Muwafiq.

Meski Gus Muwafiq tidak menyebut nama, namun hadirin sudah paham bahwa yang dimaksud adalah Neno Warisman.

Gus Muwafiq berulang kali menggiring pemahaman hadirin seputar sholawat Nabi Muhammad SAW. Di kalangan NU, sholawat sudah cukup mengakar. Bahkan cara membacanya pun beragam. “Ada sholawatan yang lagunya dangdutan, bahkan diindiakan,” ungkapnya.

Ia lantas membaca lagu sholawat yang kerap dipakai oleh Gus Dur. Rupanya Gus Muwafiq bermaksud memancing hadirin untuk melanjutkan bacaan sholawat tersebut. Benar saja. Jamaah perempuan pun melanjutkan bacaan itu. “Sholawatannya Gus Dur itu aslinya lagunya Ida Laila. Ya dangdutan,” kata Gus Muwafiq. Hadirin pun tertawa, lalu memberikan aplaus.

Contoh lagu sholawat lainnya pun disampaikan oleh Gus Muwafiq. Ada ala India, ala Jawa, dan juga ala Timur Tengah seperti yang kerap dibawakan oleh Habib Syekh Abdul Qodir Assegaf. Semuanya membuat hadirin tertawa sekaligus sadar bahwa banyak sekali cara melagukan sholawat di kalangan warga NU.

Amma ba’du. Alhamdulillah sudah selesai mukadimah. Ini saya belum membahas haul,” kata Gus Muwafiq.

Tak sedikit hadirin bengong. Sebab saat itu, jarum jam sudah lebih dari pukul 01.30. “Lha, ini masih mukadimah lho. Belum intinya,” kata Gus Muwafiq dengan sedikit tawa. Hadirin senyum-senyum saja. Ada yang ketawa. Rasanya tidak sedikit yang mengira Gus Muwafiq serius.

“Ya sudah. Cukup mukadimah saja. Insya Allah kita semua dapat barokah dari haul ini,” kata Gus Muwafid sembari lanjut memanjatkan doa tanda berakhirnya ceramah. (eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan