Lain-lain

Netralkan Racun Ikan Buntal, Omzet Miliaran

PAITON – Kasus ikan buntal yang bikin sejumlah orang keracunan beberapa waktu lalu, memang cukup menarik perhatian publik. Namun, sebenarnya jika mampu mengolahnya dengan baik, ikan buntal bisa menjadi produk makanan olah yang lezat. Dan ini dibuktikan oleh industri pengolahan ikan buntal di Desa Sumberanyar, Paiton. Omzetnya bahkan sudah mencapai miliaran rupiah per bulan.

Lokasi industri pengolahan ikan buntal itu berada di kawasan Tempat Penampungan Ikan (TPI) Paiton di Desa Sumberanyar Kecamatan Paiton. Pemiliknya bernama Misraji, asal Desa Pondok Kelor, Paiton.

Senin (18/2) sore itu, puluhan tenaga kerja industri bekerja di bawah pengawasan Misraji. Mulai dari pencucian ikan, penjemuran, hingga pengemasan. Sebenarnya, industri pengasinan ikan ini hampir sama dengan yang lainnya. Yang membedakan hanya variasi ikan yang diasinkan. “Kami mengasinkan ikan teri, layang, tembang bahkan ikan Teh Potehan (ikan buntal),” kata Misraji kepada Koran Pantura, kemarin (18/2).

Awalnya, Pak Mis –sapaan akrabnya– memulai usaha pada tahun 2009 sebagai seorang pemasok ikan segar ke industri pengasinan ikan di Tuban. Berselang 4 tahun, ia mulai memahami cara pengolahan dan pangsa pasarnya. “Saya memutuskan membuka usaha sendiri tahun 2014 dan berjalan sampai sekarang,” ujarnya.

Usaha pengasinan ikannya pun berbeda dengan pola konvensional masyarakat pesisir lainnya. Jika biasanya ikan segar dicampur garam lalu dijemur, Misraji berbeda. Ikan segar dicuci, lalu direbus dalam air garam, disiram dengan air tawar, baru dijemur. “Perebusan ini menjamin higienitas dan penetralisir ikan asin dari racun,” ujar pria 47 tahun tersebut.

Harga jualnya juga berbeda. Ikan asin jenis layang pola konvensional dihargai Rp 18 ribu – Rp 20 ribu per kilogram. Sedangkan ikan asin metode perebusan dihargai kisaran Rp 28 ribu – Rp 33 ribu per kilogram. “Pasarnya di Sumatera, mulai Lubuk Linggau, Metro Lampung, Baturaja sampai Padang,” sebut Pak Mis.

Selama 5 tahun berkecimpung di dunia pengolahan ikan, pihaknya juga menerima informasi bahwa terdapat beberapa kasus keracunan ikan buntal. Namun kejadian itu tidak menggoyahkan usahanya.

“Malah bikin saya makin untung. Hasil tangkapan ikan buntal nelayan lokal, dari Madura, Muncar, sampai Puger yang nggak laku, saya sikat habis. Karena saya tahu caranya mengolahnya agar aman konsumsi,” paparnya.

Ia menyebut, racun ikan buntal terdapat pada empedu dan terkadang terdapat pada kulit untuk jenis tertentu saja. Masyarakat setempat menyebut dengan istilah Ikan Buntal Pisang.

“Ciri-cirinya, perut mulus tanpa gerigi. Ini harus dibuang kulitnya. Kalau pembuangan empedu itu berlaku umum dan wajib buat semua jenis ikan buntal,” tuturnya.

Pengambilan empedu pada ikan buntal dilakukan saat pencucian. Setiap tenaga kerja diharuskan menjamin empedu itu tidak pecah. Setelah itu, ikan direbus dalam air garam.

“Selain sebagai pengasinan, perebusan dengan air garam juga untuk menetralisir racunnya. Jadi aman. Nah, kalau nelayan bingung jual ikan buntal karena isu bahaya racunnya, sini jual saja ke saya,” selorohnya.

Pasar ikan buntal terbesarnya adalah Kota Metro Provinsi Lampung. Dimana setiap 4 hari sekali ia bisa menjual antara 2-3 ton ikan asin jenis buntal. Harga jualnya dipatok Rp 25 ribu per kilogram.

“Artinya, dari ikan buntal ini saja, omzet yang didapat sekitar Rp 525 juta per bulan. Kalau omzet penjualan semua jenis ikan asin rata-rata Rp 1,2 miliar – Rp 1,3 miliar per bulan. Malah pernah Rp 1,6 miliar sebulan,” bebernya.

Sekali kirim, Misraji bisa membawa antara 8-11 ton ikan asin. Jumlah itu didapat dari puluhan ton ikan segar yang dibeli dari nelayan dan dikeringkan. Pada tahun 2014 lalu, ia memiliki hanya 18 tenaga kerja.

“Sekarang sudah ada 60 tenaga kerja. Pengolahan ikan sistem borongan yaitu Rp 550 ribu per ton. Sedangkan pengemasan pakai tenaga harian diupah Rp 40 ribu per hari. Sebulan, saya bisa keluarkan Rp 60 juta hanya untuk gaji pekerja,” paparnya.

Suhriyanto (40), warga Desa Sumberanyar Kecamatan Paiton menjadi salah satu pekerja di industri tersebut. Saban hari, ia rata-rata mendapat upah Rp 150 ribu, tergantung jumlah tenaga kerja yang masuk.

“Kalau full, masuk semua, upahnya sekitar Rp 100 ribu. Kalau yang kerja sedikit, saya pernah dapat Rp 250 ribu per hari,” kata pria yang sudah bekerja selama 2 tahun terakhir ini.

Sebelumnya, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Upahnya antara Rp 60 ribu – Rp 80 ribu per hari. “Itu pendapatan kotor, tanpa makan. Kalau disini, makan ditanggung bos. Enak disini,” tandasnya. (awi/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan