Lain-lain

Harga Pestisida Melambung

PROBOLINGGO – Petani bawang merah di Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo saat ini mengeluhkan mahalnya harga obat pembasmi hama atau pestisida. Kenaikan harga tersebut terjadi sejak beberapa waktu terakhir. Karena harganya naik, pengeluaran petani semakin bertambah. Padahal, harga jual bawang justru sedang murah.

Solihin (32), seorang petani bawang asal Desa Sumbersuko mengaku turut terkena dampak kenaikan harga pestisida. Sejak harga pestisida naik, ia terpaksa merogoh kocek tambahan hingga Rp 50.000 dalam satu kali penyemprotan pestisida. Padahal penyemprotan dilakukan rutin tiap 2-3 hari sekali.

“Saat ini sering hujan, bawang harus dijaga agar tidak terserang hama seperti ulat dan jamur. Di satu sisi harga obat (pestisida, red) dan pupuk terus naik. Padahal harga bawang sedang jelek,” katanya, Rabu (6/2) kemarin.

Menurutnya, kenaikan harga pestisida ini sudah terjadi sejak sekitar 2 pekan lalu. Kenaikannya terjadi secara bertahap. Saat ini, untuk beberapa obat pestisida sudah mencapai harga Rp 125.000 per bungkus untuk isi kemasan 500 gram. Dalam satu kali penyemprotan pestisida ini, Solihin setidaknya memerlukan 1 bungkus untuk 1 jenis obat pestisida.

“Saya menggunakan setidaknya ada 2 jenis obat pestisida. Masing-masing 1 bungkus untuk penyemprotan bawang seluas sepertiga hektare. Bisa dihitung berapa pengeluaran saya selama sepekan,” terangnya.

Hal senada diungkapkan Burhan (35), seorang petani asal Desa Randuputih. Menurutnya, harga pestisida sebelumnya adalah Rp 110.000 per bungkus ukuran 500 gram.

“Sekarang obat-obatan serba mahal. Kalau tidak diobat, bawang pasti  habis dimakan ulat. Ya terpaksa, mau tidak mau, saya harus mengeluarkan biaya tambahan meskipun harus mengurangi biaya kebutuhan hidup keluarga sehari-hari,” keluhnya.

Para petani kata Burhan, berharap ada perhatian dari pemerintah pusat ataupun daerah untuk mengatasi kenaikan obat-obatan seperti pestisida. Selain itu, campur tangan pemerintah diharapkan bisa mengendalikan harga untuk komoditas pertanian. Sebab, sebagian besar para petani di Kecamatan Dringu menggantungkan hidup dari sektor usaha pertanian. “Petani di sini, hidup mati tetap tanam bawang,” tegasnya.

Selain petani, kenaikan harga pestisida juga dirasakan dampaknya oleh penjualnya. Yon (48), seorang penjual pestisida di Dringu mengatakan, kenaikan harga pestisida mempengaruhi omzet penjualannya, meski tidak terlalu signifikan.

“Memang ada pengaruh ke omzet. Turun sekitar 15 persen setiap pekannya. Sebelum harga naik, kami bisa meraup omzet hingga Rp 20 juta per pekan untuk semua jenis pestisida. Kalau sekarang omset cenderung turun,” ungkap Yon.

Yon mengatakan, kenaikan harga pestisida dipengaruhi langkanya bahan aktif pestisida jenis Klorotalonil 75 persen. Akibatnya, pihak distributor pun terpaksa menaikkan harga pestisida yang dijual ke toko-toko obat pestisida.

“Kata distributor obatnya, bahan aktif pestisida sekarang makin susah dan mahal. Karena itu, pestisida yang dijual dari distributor ke toko juga mengalami kenaikan harga,” terangnya. (tm/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan