Lain-lain

Seorang nelayan di Desa Binor Kecamatan Paiton sepulang menangkap ikan di laut. Nelayan setempat menangkap ikan dengan alat tangkap Bubu. (Deni Ahmad Wijaya/Koran Pantura)

Tak Terdampak Angin Barat, Andalkan Alat Tangkap Bubu

PAITON – Fenomena angin barat yang terjadi di perairan pantai utara Kabupaten Probolinggo sejak Januari ternyata tidak berdampak pada seluruh nelayan. Hanya nelayan yang menangkap ikan dengan jaring dan pancing saja yang terdampak.

Johan Okta Riyanto, nelayan di Desa Binor Kecamatan Paiton bukan merupakan nelayan dengan 2 metode tersebut. Dia menggunakan alat tangkap bubu. Yakni alat tangkap gabungan bambu dan jaring. “Desainnya dibuat agar ikan bisa masuk, tapi gak bisa keluar,” kata Johan, Selasa (5/2).

Menurut Johan, di dalam bubu itu dipasang umpan berupa ikan kecil. Jaring bubu juga dibuat hanya untuk ikan besar saja. Sedangkan ikan kecil yang terjebak di dalamnya tetap bisa keluar dari jaring.

“Bubu dipasang di tempat adanya rumpon atau rumah ikan. Karena disana tempat berkumpulnya ikan. Sasaran tangkapan mulai dari kerapu, kakap, baronang hingga ikan putihan,” sebut warga Desa Binor tersebut.

Setelah bubu dipasang, nelayan lalu pulang. Selang beberapa jam, nelayan kembali lagi melihat hasil jebakan ikannya. Setiap hari, mereka bisa 1-3 kali memasang bubu. Tergantung ketersediaan umpan.

“Jadi, angin barat itu hanya berdampak pada nelayan yang mencari ikan menyisir ke tengah laut. Kalau kami gak mencari, tapi menangkap dari rumah ikan,” tutur pria yang juga pengelola wisata Pantai Bohay tersebut.

Namun, tidak semua nelayan di perairan pantai utara sukses dengan metode tangkap bubu. Karena cara tersebut harus menjamin ekosistem ikan masih aman. Perairan itu harus terbebas dari racun dan penggunaan alat tangkap pukat harimau.

“Sebelum pakai bubu, rumah ikan dan rumpon harus dibuat dulu. Sebulan biasanya sudah banyak ikan yang ada disana. Barulah bisa ditangkap pakai bubu,” urai Johan.

Untuk membuat rumpon dan rumah ikan, dibutuhkan biaya sekitar Rp 3 juta. Jika dibuat dari limbah kayu dan bambu, maka nelayan bisa menghemat biaya. Lalu untuk bubu, biaya pembuatan per unit Rp 650 ribu. “Rata-rata nelayan punya 4-8 bubu,” sebutnya.

Saat ini, rata-rata nelayan binor bisa menangkap kerapu, kakap dan baronang sekitar 20-40 kilogram per hari. Sedangkan ikan putihan bisa mencapai 50 kilogram per hari. Harga jual kerapu Rp 65 ribu per kilogram. Kakap dan baronang Rp 53 ribu per kilogram. Sedangkan putihan Rp 35 ribu per kilogram.

“Jualnya ke pengepul. Dia jual ke agen yang punya pasar ke restoran Bali. Setiap hari, tangkapan nelayan pasti terbeli. Karena permintaan dari restoran Bali banyak,” ungkap Johan. (awi/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan