Lain-lain

9.605 Sapi di Probolinggo Terjangkit PMK, 82 Diantaranya Mati


PROBOLINGGO – Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Probolinggo mencatat hingga Jumat (17/6) lalu. Ada sebanyak 9.605 ekor sapi di kabupaten Probolinggo yang terinfeksi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Dari jumlah populasi sapi itu, sebanyak 82 ekor sapi diantaranya dinyatakan mati akibat serangan penyakit yang disebabkan oleh virus itu.

Rinciannya sebanyak sebanyak 42 ekor sapi mati, dari total 7.734 sapi potong yang terinfeksi PMK.

Jumlah 7.734 sapi potong yang terinfeksi itu setara dengan 2,47 persen populasi sapi potong secara keseluruhan di kabupaten Probolinggo yakni sebanyak 312.932 ekor.

Di sisi lain, untuk sapi perah yang terjangkit PMK jumlahnya mencapai 1.871 ekor. Dimana jumlah tersebut setara dengan 26,4 persen populasi sapi perah secara keseluruhan di kabupaten Probolinggo yakni sebanyak 8.160 ekor. Sapi perah yang terjangkit, 40 ekor diantaranya dinyatakan mati.

Tak sampai disitu saja, penyebaran PMK ini juga ternyata menyerang ternak domba dan kambing. Sebanyak 50 ekor domba dari total populasi sebanyak 76.721 korban domba dan 57 ekor kambing dari total populasi sebanyak 54.923 ekor kambing yang dinyatakan terindikasi terinfeksi PMK.

Medik Veteriner Muda Disperta Kabupaten Probolinggo drh. Nikolas Nuryulianto mengatakan melihat fakta banyaknya hewan ternak yang terpapar PMK itu. Pihaknya pun bergerak cepat dengan melakukan pengobatan kepada ternak yang sakit. Namun terkait dengan tingkat kesembuhannya semua itu tergantung terhadap imunitas tubuh hewan.

“Petugas teknis peternakan kecamatan di lapangan sudah melakukan upaya untuk memberikan terapi obat-obatan maupun penyemprotan disinfektan kepada ternak. Namun kesembuhannya tergantung dari imunitas tubuh hewan itu sendiri. Maka dari itu penting untuk menjaga kebersihan kandang serta asupan makanan yang diberikan,” katanya, Minggu (19/6).

Dijelaskannya terkait dengan banyaknya hewan yang mati akibat serangan PMK. Pihaknya meminta kepada masyarakat untuk segera menguburkan ternak tersebut didalam tanah berkedalaman 2 meter.

“Sebelum dan sesudah dikubur, ternak dan peralatan penguburannya harus disemprot dulu dengan disinfektan. Tujuannya supaya bangkai dan peralatan yang dipakai untuk mengubur tidak terdapat virus PMK. Termasuk penguburnya juga harus disterilisasi dengan disinfektan,” jelasnya.

Niko mengimbau kepada para peternak untuk segera melaporkan apabila ada ternak yang mengalami gejala PMK. Seperti keluar air liur berlebih, tidak mau makan dan kepincangan, muncul ruam di sekitar mulut dan ada luka di kuku.

“Diharapkan peternak itu setiap hari menjaga kebersihan kandang, peralatan ternak serta siapapun yang masuk keluar kandang. Penyemprotan disinfektan bisa dilakukan setiap hari, karena virus ini menyebarnya bisa juga lewat udara,” ujarnya.

Dia pun menegaskan bahwa virus PMK ini tidak menyebar kepada manusia atau bersifat Zoonosis. Namun menyebar hanya diantara hewan ke hewan, sehingga masyarakat tak perlu takut untuk mengkonsumsi daging dari hewan ternak utamanya sapi dan berbagai macam produk turunannya.

“Terpenting adalah membeli daging yang jelas asal usulnya. Maksudnya yakni membeli daging dari RPH resmi dan tidak tergiur dengan harga daging yang murah. Karena hal itu justru akan menimbulkan kecurigaan terkait dari mana asal daging itu didapat, apakah dari hewan yang sehat atau sakit,” pungkasnya. (tm/ra)


Bagikan Artikel