Lain-lain

Warga Kota Probolinggo Tolak Industri Kotoran Ternak


PROBOLINGGO – Keberadaan industri pengolahan kotoran ternak di tengah pemukiman warga Kota Probolinggo. Mendapat penolakan dari warga di sekitar lokasi usaha yang berada di RT 05 RW 06 Kelurahan Sukabumi Kota Probolinggo.

Penolakan tersebut bahkan dituangkan dalam sebuah surat aduan tertanggal 27 September 2021 lalu. Namun hingga kini tidak ada tindak lanjut yang diambil oleh Pemerintah Kota Probolinggo untuk menanggapi keluhan warganya itu.

Ketua RT 05 Kelurahan Sukabumi Mugiyanto mengungkapkan, keluhan warga atas keberadaan industri pengolahan kotoran ternak sekaligus kandang ayam petelur itu. Sudah disampaikan sejak setahun terakhir, bahkan puncaknya pada bulan September tahun lalu. Warga membuat petisi untuk menolak dan menutup industri pengolahan kotoran ternak milik warga Malang itu.

“Sudah kami sampaikan surat pengaduan tersebut kepada pihak Kelurahan, dan bahkan kepada sejumlah dinas terkait. Namun hingga saat ini belum ada tindak lanjutnya sama sekali,” ungkapnya, Selasa (26/4).

Adapun dinas terkait yang sudah dikirimi surat penolakan tersebut kata Mugiyanto, yakni Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Pemukiman (DPUPRPKP), Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPMPTSPTK), dan Satpol PP.

“Dari sekian banyak dinas yang kami tembusi surat aduan warga itu. Hanya Satpol PP yang sempat menerjunkan anggotanya ke lokasi industri itu. Itu pun kata anggota Satpol PP kalau penutupan industri itu bukan wewenang mereka. Lantas apa tugas dan fungsi mereka dalam penegakan Perda yang ada,” katanya.

Adapun Siswanto salah seorang warga di RT 05 yang menanda tangani surat penolakan itu. Menyampaikan bahwasannya penolakan warga itu bukan tanpa alasan. Bau tidak sedap yang menyengat dan keluar dari lokasi industri pengolahan kotoran ternak itu.

Menurutnya sangat mengganggu aktifitas warga yang tinggal disekitar lokasi industri tersebut.

“Bau sekali mas, ini kan kawasan pemukiman. Seharusnya tidak dijadikan sebagai lokasi industri pengolahan kotoran ternak. Apalagi sekarang ditambah dengan adanya usaha peternakan ayam petelur yang kotorannya juga menimbulkan bau yang tak sedap,” terangnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa semenjak adanya industri pengolahan kotoran ternak yang telah beroperasi selama setahun terakhir itu. Rasa tidak nyaman akibat bau yang ditimbulkan dari kotoran atau limbah yang dihasilkan dari industri itu sangatlah mengganggu.

“Anak-anak kami sampai batuk-batuk, karena harus mencium bau menyengat dari kotoran yang terbawa angin kearah perumahan kami. Ini tidak bisa terus dibiarkan,” tegasnya.

Oleh karena itu, Siswanto berharap kepada Pemerintah Kota Probolinggo untuk bertindak tegas dengan menindak atau menutup usaha pengolahan kotoran ternak tersebut. Karena selain bukan pada tempatnya yakni berada di kawasan pemukiman padat penduduk. Keberadaan industri itu juga telah mengganggu kenyamanan warga di sekitarnya.

“Kami sempat tegur pemiliknya, agar segera menutup usaha itu. Namun diacuhkan oleh pemiliknya. Bahkan sekarang ditambahi dengan usaha peternakan ayam petelur. Kami harap Pemkot bisa bertindak tegas atas hal ini. Kalau tidak kami akan mengadakan demo di balai Kota,” pungkasnya. (tm/ra)


Bagikan Artikel