Lain-lain

Sering Hujan, Petani Enggan Tanam Bawang Merah


PROBOLINGGO – Tingginya curah hujan dan rendahnya harga bawang membuat para petani bawang merah di kecamatan Dringu enggan menanam bawang. Itu karena tanaman bawang di musim hujan begini rawan serangan penyakit dan terendam banjir.

Zaenal (40), salah seorang warga Desa Tegalrejo, Kecamatan Dringu, mengaku untuk saat ini tidak berniat menanam bawang merah. Pasalnya pada awal tahun lalu lahan pertanian bawang merah miliknya sempat terdampak banjir luapan sungai Kedunggaleng.

“Tahun lalu saya nekat menanam bawang meski biayanya mahal. Setelah saya lawan hama bawang dengan berbagai macam obat pestisida yang mahal, ternyata malah terdampak banjir dan tidak bisa sampai panen. Rugi puluhan juta waktu itu,” ujar Zaenal, Selasa (11/1).

Karena kegagalan panen itu, ia jera menanam bawang merah pada awal tahun. Dia memilih untuk menunda menanam bawang merah setidaknya hingga akhir bulan Februari mendatang, meski iming-iming harga tinggi panenan bawang di awal tahun sudah menanti.

“Saya tak mau ambil resiko, meski prediksi harga bawang merah bakal segera naik. Tapi resikonya terlalu besar, karena bayang-bayang serangan hama dan banjir masih menjadi ancaman,” terangnya.

Hal senada disampaikan Kusairi (47), petani bawang merah asal Desa Mranggonlawang,  Kecamatan Dringu. Ia mengaku khawatir akan serangan hama dan penyakit bawang. Dimana ketika tanaman bawang merah terkena hujan terlalu lama, berpotensi membuat daun bawang layu dan rusak. Hal inilah yang jadi pertimbangannya turut tak menanam bawang diawal tahun.

“Kalau kena hujan bisa rusak tanaman bawangnya. Meskipun pakai jaring sekalipun, kalau kena hujan terus ya tetap bakal rusak,” katanya.

Menangapi keengganan para petani untuk menanam bawang merah di awal tahun, Kepala Pasar Bawang Dringu Sutaman mengatakan cukup menyayangkan. Pasalnya, momen kenaikan bawang biasanya terjadi jelang berakhirnya musim penghujan. Terlebih momen puasa dan lebaran akan datang lebih awal tahun ini. Sehingga potensi kenaikan harga bawang pun sangat dimungkinkan.

“Kalau suplai dari petani kurang, ada dua kemungkinan bawang akan jadi langka dan harganya naik, atau Pasar Dringu akan kebanjiran bawang dari luar daerah dan haranya akan rusak seterusnya,” terangnya.

Lebih lanjut, Sutaman berharap agar para petani bawang merah tetap bersemangat menanam bawang. Dalam bisnis tidak ada kata selalu rugi, dan pasti sudah ada waktunya untuk meraup untung. “Ini demi keberlangsungan pasar bawang Dringu juga. Terlebih bawang merah kita sangat diminati oleh para pedagang asal luar daerah. Urusan harga biar pasar yang menentukan,” katanya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel