Lain-lain

Minyak Mahal, Belum Ada Operasi Pasar


PROBOLINGGO – Senin (3/1) lalu, Presiden Joko Widodo menginstruksikan kepada Kementerian Perdagangan untuk menjaga stabilitas harga minyak goreng. Caranya dengan melakukan operasi pasar. Pasalnya, dalam beberapa bulan terakhir hingga saat ini harga minyak goreng terbilang cukup tinggi. Namun Pemkab Probolinggo menilai saat ini operasi pasar belum perlu dilakukan.

Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo Endang Rustiningsih mengatakan, harga minyak goreng saat ini sebenarnya masih terjangkau oleh daya beli masyarakat. Oleh karenanya, pihaknya menilai belum perlu ada operasi pasar di Kabupaten Probolinggo untuk sementara waktu.

“Kami masih belum melakukan operasi pasar, setidaknya di Januari ini,” kata Endang.

Ia mengungkapkan, selama ini Disperindag terus melakukan kontrol terhadap harga-harga sembako di pasar tradisional. Termasuk harga minyak goreng yang saat ini harganya berkisar Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu per liter. “Di pasar sudah ada tim kami yang setiap hari keliling untuk mengecek perkembangan harga,” kata Endang.

Meski begitu, pihaknya tidak menutup kemungkinan akan melakukan operasi pasar dadakan. Terutama jika harga minyak goreng terus melambung tinggi. “Tujuan operasi pasar memang untuk stabilitas harga agar harga minyak goreng terjangkau oleh daya beli masyarakat,” terangnya.

Umi Faizah, seorang pedagang minyak goreng di Pasar Semampir Kraksaan mengatakan, sejak Oktober lalu harga minyak goreng memang terus mengalami kenaikan. Harganya kala itu berkisar Rp 13 ribu per liter. Kini, harganya menjadi Rp 19 ribu. Umi mengaku kesulitan untuk mendapatkan pembeli.

“Sudah 3 bulanan yang mahal, malah Desember lalu pembeli itu banyak yang lari ke minyak goreng kemasan. Tapi saat ini sudah mulai normal lagi penjualannya, karena yang kemasan juga ikut naik,” terangnya. (ay/eem)


Bagikan Artikel