Lain-lain

Terdapat 2.211 Janda Baru di 2021


KRAKSAAN – Ribuan istri harus mengubah statusnya pada tahun 2021 lalu. ketok palu hakim Pengadilan Agama (PA) Kraksaan memutus 2.211 perkara cerai yang menjadikan istri menjadi janda dan suami menjadi duda.

Panitera Muda (Panmud) Hukum PA Kabupaten Probolinggo Syafiudin mengatakan, banyaknya perkara cerai tersebut masih tetap lebih didominasi oleh perkara Cerai Gugat (CG), atau perkara cerai yang diajukan oleh pihak istri. Totalnya mencapai 1.432. Sedangkan untuk perkara cerai talak (CT) atau perkara cerai yang diajukan oleh pihak suami jumlahnya mencapai 779.

Namun, meski sudah banyak perkara cerai yang diputus, pihaknya kini masih saja tetap disibukkan dengan agenda persidangan ceai saban harinya. Pasalnya, sebagian perkara cerai yang terdaftar pada 2021 masih ada yang belum tuntas persidangannya dan masih dilanjutkan pada tahun ini.

“Perceraian memang cukup tinggi. Rata-rata perbulannya itu ada ratusan perkara yang kami terima. Di tahun 2021 itu yang daftar jumlahnya 2.383. Perbandingannya itu 1.518 dari CG dan 865 itu CT,” katanya, Senin (3/1). 

Menurutnya, permasalahan utama banyaknya pasangan yang mengajukan cerai sepanjang tahun 2021 lalu rata-rata disebabkan oleh faktor perekonomian. Ia pun menyadari bahwasanya andemi Covid-19 memang sangat mengganggu terhadap perekonomian warga.

“Sebelum pandemi ini kan biasanya faktornya itu karena sering bertengkar, t api semenjak pandemi, rata-rata perceraian itu karea persoalan ekonomi,” terangnya.

Meski begitu, ia menyebut perkara cerai yang diputus pada tahun 2021 lalu sudah lebih sedikit jika dibandingkan dengan tahun 2020 ataupun 2019. Ia pun berharap, tren ini bisa terus berlangsung hingga angka perceraian di Kabupaten Probolinggo menjadi sedikit.

“Selama 2 tahun berturut-turut terus turun 2019 yang jumlahnya 2.414 turun di 2020 menjadi 2.326. dan tahun 2021 kembali turun,” ucap mantan panitera di pengadilan agama Situbondo tersebut.

Pria yang akrab disapa Udin ini pun berharap, pasangan suami istri jangan terlalu gegabah untuk melakukan perceraian karena faktor ekonomi. Sebab, kondisi pandemi ini memang sangat mengganggu terhadap perekonomian semua warga.

“Harus ditingkatkan pengertiannya sesama pasangan, nanti ketika kondisi pandei ini sudah berakhir, tentunya perekonomian akan kembali normal. Toh sekarang juga sudah mulai bangkit,” terangnya. (ay/iwy)


Bagikan Artikel